Surabaya (beritajatim.com) – Rumah Sakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Surabaya menggelar Symposium dan Workshop Acute Life Emergency Response Training (ALERT) di Hotel Harris Gubeng Surabaya, Minggu (23/11/2025).
Kegiatan ini fokus pada peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam menangani berbagai kondisi kegawatdaruratan lintas spesialisasi, sekaligus menjadi rangkaian peringatan satu tahun berdirinya RS Kemenkes Surabaya.
“Jumlah rumah sakit dibandingkan jumlah penduduk Indonesia masih sangat kurang. Banyak masyarakat tinggal jauh dari fasilitas kesehatan, sehingga kebutuhan tenaga kesehatan masih sangat besar,” ujar Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha M. L. Siahaan.
Acara ini diikuti oleh 443 peserta yang terdiri dari mahasiswa kedokteran, dokter umum, dokter residen, perawat, serta para dokter spesialis dari bidang OBGYN, kardiologi, paru, mata, dan sejumlah disiplin medis lainnya.
Selama workshop, peserta mendapatkan pembekalan keterampilan dan praktik langsung yang dirancang untuk memperkuat respons cepat dalam menghadapi situasi medis kritis.
Pelatihan ALERT tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan teknis, tetapi juga kolaborasi lintas profesi untuk memperluas wawasan dan meningkatkan koordinasi penanganan kasus gawat darurat.
“Forum ini sekaligus mendorong generasi muda untuk terus memperbarui kompetensi sebagai calon tenaga ahli kesehatan masa depan,” kata dr. Martha.
Salah satu fokus utama pelatihan adalah peningkatan response time dari tahap penanganan awal hingga penyelamatan akhir, baik pada pasien kegawatdaruratan maupun korban bencana.
Tantangan fasilitas kesehatan yang belum merata di berbagai wilayah Indonesia menjadikan peningkatan kualitas SDM medis sangat penting.
Sementara itu, Dokter Spesialis Ortopedi Tulang Belakang RS Kemenkes Surabaya, dr. Luthfi Gatam menegaskan bahwa teknologi medis seperti robot tidak dapat menggantikan tenaga kesehatan.
“Robot hanya alat penunjang, bukan pengganti peran manusia. Sampai hari ini robot medis tetap memerlukan tenaga kesehatan yang mengoperasikannya,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian Kemenkes, Warno Hidayat menyampaikan bahwa pelatihan ALERT menjadi bagian dari upaya peningkatan standar pelayanan kesehatan nasional.
“Kami mendorong RS Kemenkes Surabaya untuk segera memperoleh akreditasi nasional hingga akreditasi paripurna. Program pelatihan seperti ini adalah langkah strategis menuju standar pelatihan internasional,” ujarnya.
Sedangkan Supara, perwakilan peserta dari Indonesia Timur, berharap peningkatan kompetensi melalui pelatihan ini dapat berdampak pada pelayanan kesehatan yang lebih maksimal, baik secara kuantitas maupun kualitas, bagi masyarakat wilayah timur Indonesia.
Melalui Symposium dan Workshop ALERT ini, RS Kemenkes Surabaya berharap peserta mampu terus mengasah kewaspadaan, meningkatkan keterampilan klinis, dan memperkuat kesiapan menghadapi berbagai situasi kegawatdaruratan di lapangan. [ipl/suf]






