Mojokerto (beritajatim.com) – Tahap verifikasi lapangan penilaian Innovative Government Award (IGA) 2025 berlangsung di Kota Mojokerto. Tim penilai yang dipimpin oleh Prof. Diah Natalisa disambut langsung oleh Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari di Balai Kota Mojokerto.
Dalam sesi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto memaparkan dua inovasi unggulan yang masuk dalam penilaian nasional. Yakni Kencana Mojo di bidang kesehatan dan Gaman Majapahit di bidang integrasi layanan pajak dan lingkungan.
Sebagai bagian dari proses fact finding, tim melakukan wawancara langsung kepada penerima manfaat serta pelaksana inovasi di lapangan. Untuk Kencana Mojo, tim penilai menggali praktik nyata melalui dialog dengan peserta Posbindu, tim PSC, serta para Prameswari yang menjadi ujung tombak layanan kesehatan masyarakat.
Sementara pada inovasi Gaman Majapahit, tim menilai implementasi langsung dengan mewawancarai petugas mobil pajak keliling, pengelola bank sampah, hingga pihak-pihak yang terlibat dalam integrasi layanan pengelolaan pajak dan lingkungan tersebut.
Prof. Diah menjelaskan, verifikasi lapangan merupakan tahap ketiga sekaligus penutup dalam rangkaian penilaian IGA 2025. Sebelumnya, Kota Mojokerto telah melalui dua tahap penting, penilaian dokumen indeks inovasi daerah serta presentasi dan wawancara kepala daerah.
“Kami ingin melihat sejauh mana inovasi itu memberikan kebermanfaatan, bagaimana replikasinya, dan apa kebaruannya. Semuanya harus terlihat langsung di lapangan,” ungkapnya, Jumat (21/11/2025).
Ia juga menambahkan bahwa dokumen dari daerah sebelumnya telah dievaluasi oleh tim akademisi dari Universitas Indonesia dan Universitas Hasanuddin, sebelum masuk pada tahap presentasi kepala daerah oleh Wali Kota Mojokerto. Menurutnya, Kota Mojokerto menunjukkan perkembangan inovasi yang signifikan.
“Kota Mojokerto ini sudah sangat banyak inovasinya. Harapannya tentu tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus ditingkatkan dengan menghadirkan terobosan-terobosan baru yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan kemajuan daerah,” tuturnya.
Prof. Diah juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam melahirkan inovasi. Menurutany, berinovasi bisa dilakukan siapa saja. Kolaborasi tidak hanya dilakukan internal ASN, tetapi juga masyarakat, pihak swasta seperti pengelola bank sampah, dan berbagai stakeholder lainnya. Menurutnya, hal tersebut ada rasa kebersamaan dan ownership untuk memajukan Kota Mojokerto.
Sementara itu, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menegaskan bahwa inovasi merupakan komitmen pemerintah daerah dalam menjawab tantangan kota kecil dengan sumber daya terbatas. “Kota Mojokerto memang kecil, tapi semangat inovasinya besar. Dengan keterbatasan sumber daya alam, kami justru terpacu menciptakan solusi inovatif untuk meningkatkan pelayanan publik,” katanya.
Ning Ita (sapaan akrab, red) menambahkan bahwa inovasi-inovasi yang dihadirkan bertujuan memberikan layanan yang semakin cepat, mudah, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Dengan rampungnya verifikasi lapangan ini, Kota Mojokerto kini selangkah lebih dekat menuju penilaian akhir IGA 2025 dan berpeluang kembali meraih predikat Kota Terinovatif. [tin/ian]






