Surabaya (beritajatim.com) – Hujan di Surabaya kini datang dengan bonus yang tidak pernah masuk prakiraan BMKG. Ya, mikroplastik.
BRIN memastikan partikel plastik berukuran nyaris tak terlihat itu ikut turun bersama air hujan di sejumlah kota besar. Termasuk di Surabaya.
Kepala BRIN, Arif Satria mengakui persoalan ini bukan isu sepele dan riset lanjutan segera dibuka. Kampus diminta tidak hanya mengomentari fenomena, tetapi ikut turun ke laboratorium.
“Saya tentu akan address isu-isu lingkungan. Ada partisipasi kampus untuk melakukan joint riset,” kata Arif di Universitas Negeri Surabaya, dikutip Jumat (21/11/2025).
Arif menyebut fokus awal BRIN sempat terserap pada penanganan banjir dan pembangunan giant seawall di Pantura. Tetapi ia memastikan isu atmosfer, termasuk mikroplastik yang ikut terbawa angin dan hujan, menjadi prioritas.
“Soal hujan, soal macam-macam itu banyak sekali. Agenda-agenda yang kita buka ada partisipasi kampus,” ujarnya.
Sebelumnya, BRIN mendorong langkah lintas sektor untuk menahan laju mikroplastik di udara. Pertama, memperkuat riset dan pemantauan kualitas udara serta air hujan secara rutin.
Kedua, memperbaiki pengelolaan limbah plastik sejak di hulu, termasuk pengurangan plastik sekali pakai dan peningkatan fasilitas daur ulang.
Ketiga, meminta industri tekstil memasang sistem filtrasi pada mesin cuci untuk menahan pelepasan serat sintetis, salah satu sumber mikroplastik terbesar.
Di Surabaya, beberapa waktu lalu ECOTON juga telah mengungkap bahwa air hujan di Kota Pahlawan mengandung hingga 356 partikel mikroplastik (PM) per liter.
Temuan ini menempatkan Surabaya sebagai wilayah dengan kontaminasi mikroplastik udara tertinggi ke-6 di Indonesia dari 18 kota yang diteliti, dengan kadar 12 partikel/90 cm²/2 jam di udara.
Pencemaran ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas pembakaran sampah, selain faktor lain seperti gesekan ban kendaraan, kegiatan laundry, timbunan sampah, polusi industri, dan asap kendaraan.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya pun berjanji akan segera berkolaborasi dengan pakar dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terkait pencemaran mikroplastik dalam air hujan.
Namun di luar berbagai upaya itu, temuan mikroplastik dalam air hujan menjadi pengingat keras bahwa polusi plastik sudah menjadi persoalan serius.
Ia bukan lagi menunggu di sungai atau laut, tetapi menggantung di atmosfer dan turun begitu saja ke halaman rumah kita. [ipl/suf]






