Sebuah link Facebook berisi klip video pidato Gita Wirjawan berdurasi dua menit 54 detik mampir ke WhatsApp saya. Judulnya: Gita Wirjawan Bicara Soal Investasi Asing di Indonesia.
Saya tidak tahu Gita bicara di forum apa. Sebagai seorang wirausahawan, investor, dan politisi yang pernah menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal 2009-2012 dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia 2011-2014, jelas dia punya kapasitas dan otoritas keilmuan soal investasi.
Dalam video yang singkat itu, Gita menyebut ‘Kabupaten Jember’ sebagai contoh permisalan perbandingan antara risiko dan ketidakjelasan dalam berinvestasi.
“Ada orang mau investasi di Jember, bawa 100 juta dolar mau bangun pabrik. Orang Jember bilang: ‘Bapak, ada 68 persen probability bahwasanya di Jember listrik akan mati 2,5 bulan setiap tahun’,” kata Gita.
“Kalau itu terjadi, omzet Bapak akan turun 12 persen. Bottom line Bapak di pabrik ini akan turun 18 persen. Itu adalah risk. Bisa diukur, bisa diprediksi, bisa dikuantifikasi, dan bisa dinilai,” kata Gita.
Ini akan berbeda jika investor hanya mendapat janji kemungkinan ‘insyaallah listrik tidak akan mati’. “Itu tidak bisa dikuantifikasi,” kata Gita.
Tentu saja Jember tidak segawat itu. Kita tahu Gita Wirjawan hanya memakai Jember sebagai permisalan nama tempat investasi. Namun penyebutan nama ‘Jember’ dari ratusan nama kabupaten dan kota di Indonesia oleh seorang tokoh investasi sekaliber Gita Wirjawan adalah sebuah modal penting dalam komunikasi publik.
Dengan menyebut ‘Jember’ dan kemudian tersebar luas melalui media sosial, (cuplikan klip) Gita Wirjawan memantik apa yang disebut sebagai ‘kenangan’ atau ‘ingatan’ kolektif terhadap Jember.
Orang seringkali meremehkan ‘kenangan’ atau bahkan ‘nostalgia’. Orang lupa bahwa ‘kenangan’ dibentuk oleh pengalaman, bukan sekadar oleh pengetahuan, dan ini menunjukkan seberapa pentingnya eksistensi sesuatu terhadap seseorang.
Kenangan seorang ayah saat menggendong sang anak yang masih berusia lima tahun menunjukkan betapa pentingnya posisi seorang anak bagi seorang bapak. Air mata dalam pemakaman adalah refleksi kesedihan yang dibentuk oleh kenangan personal seseorang dengan mereka yang pergi.
‘Kenangan’ selalu personal dan unik, karena pengalaman dan persinggungan setiap orang dengan sesuatu tak pernah sama dan memiliki kesan serupa.
Kita percaya bukan hanya Gita Wirjawan yang mengingat Jember. Ada ingatan kolektif publik yang saat ini mungkin berserak dan masih menjadi kepingan-kepingan terpisah yang belum terbentuk utuh dalam satu mosaik besar.
Kepingan memori ini menunjukkan bahwa Jember adalah ‘sesuatu’ bagi banyak orang. Tugas pemerintah daerah adalah mencari tahu, mengepul kepingan-kepingan itu, dan menempatkan mereka di posisi yang tepat bagai dalam bingkai puzzle, untuk menjadi investasi pembangunan.
Saya perlu mengingatkan ini, setelah bertemu dengan Bupati Muhammad Fawait di Pendapa Wahyawibawagraha pada sebuah sore yang mendung. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Jember Regar Jeane duduk di sebelah saya.
Fawait menjelaskan sejumlah program kerjanya, termasuk rencana penerbangan Jember-Bali menyusul rute penerbangan Jember-Jakarta yang dibuka lebih dulu. “Kita perlu membangkitkan optimisme masyarakat,” katanya.
Optimisme memang menjadi kata kunci dalam pembangunan. Saya kira proses ‘terbentur, terbentur, terbentuk’ yang diucapkan Tan Malaka puluhan tahun lampau pada akhirnya bicara soal keyakinan. Optimisme.
Sejumlah program yang dikerjakan Pemkab Jember seperti membiayai Universal Health Coverage (UHC) dan beasiswa perguruan tinggi, serta mengupayakan rute penerbangan pesawat merupakan bagian dari ikhtiar untuk menumbuhkan optimisme itu. Pembangunan butuh keyakinan.
Bagaimana seorang pemimpin menentukan kebijakan dan mengeksekusi program kerjanya, sesungguhnya menunjukkan kepercayaan diri terhadap arah sebuah daerah untuk melangkah maju.
Namun optimisme juga harus ditopang realitas. Kepercayaan diri tak bisa tumbuh tanpa kaki. Kaki birokrasi menjadi keniscayaan. Tanpa birokrasi yang solid, susah membangun optimisme terhadap semua program pembangunan yang dicanangkan Bupati Fawait. Soliditas ini termasuk relasi dengan Wakil Bupati Djoko Susanto yang perlu diperbaiki.
Bupati Fawait tak bisa hanya menunjukkan citra positif ke luar Jember melalui sekian program tanpa memperbaiki kesan yang tumbuh di masyarakat Jember sendiri. Mengharmoniskan hubungan dengan orang nomor dua di pemerintahan menjadi modal penting untuk menciptakan kesan positif di masyarakat yang berujung pada optimisme.
Saya juga menyarankan Bupati Fawait untuk membuka ruang seluas-luasnya kepada media massa untuk melakukan kritik terhadap kinerjanya dan birokrasi. Keterbukaan terhadap kritik sebaiknya menjadi komitmen dan tak sekadar menjadi tema retorika publik, karena berita kritis di media massa sejatinya adalah alarm bagi seorang pemimpin agar tidak terjelungup dalam lubang atau tersandung kerikil yang tidak terlihat.
Keterbukaan terhadap kritik dan cara Bupati Fawait meresponsnya menjadi kunci bagi indeks penilaian demokrasi di Jember.
Berikutnya: sudah saatnya Bupati Muhammad Fawait memanfaatkan kenangan untuk membangun kaki optimisme yang lain: mengumpulkan diaspora Jember. Kaum diaspora Jember bukan hanya orang-orang yang lahir dan besar Jember dan tengah merantau, namun juga orang-orang yang punya keterikatan dengan Jember pada masa lalu.
Jember memiliki modal besar dengan hadirnya sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta, seperti Universitas Jember, Politeknik Negeri Jember, Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq, Universitas Muhammadiyah, Universitas Islam Jember, dan lainnya.
Interaksi para mahasiswa dengan masyarakat dan lingkungan sosial Jember selama kuliah sesungguhnya membentuk kenangan yang tersimpan dalam fail ingatan nereka setelah lulus. Pemerintah Kabupaten Jember memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kota yang bisa dikenang oleh mereka.
Beberapa waktu lalu Bupati Fawait sudah menjalin kerja sama resmi dengan Universitas Jember. Belum jelas bagaimana implementasinya ke depan. Namun dalam konteks diaspora ini, tidak ada salahnya jika kerja sama tersebut juga menyentuh hubungan dengan para alumni.
Kita tidak tahu kelak ada berapa banyak lulusan perguruan tinggi di Jember yang menjadi penentu kebijakan di republik ini. Namun seperti kata Sheila On 7 dalam lagu ‘Memori Baik’, kita meyakini: ‘Semoga doa yang tersampaikan, jadi cahaya jalan di depan’. [wir]






