Probolinggo (beritajatim.com) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kota Probolinggo menggelar Seminar dan Lokakarya bertema “Jejak Arsip Sejarah Probolinggo sebagai Warisan Budaya: Relevansi di Masa Kini dan Tantangan di Masa Depan”, Jumat (14/11/2025). Kegiatan berlangsung di Ruang Pertemuan Badan Kesatuan Bangsa, Jl. Mawar No. 39A, Probolinggo.
Wali Kota Probolinggo, dr. Aminudin, membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa arsip sejarah merupakan bagian penting dari warisan budaya yang wajib dilestarikan.
“Seminar ini bukan sekadar agenda ilmiah, tetapi upaya strategis melestarikan memori kolektif dan identitas sejarah Kota Probolinggo sebagai warisan budaya bangsa,” ujar Aminudin.
Ia menuturkan bahwa arsip tidak hanya berisi dokumen masa lalu, tetapi juga sumber pengetahuan yang mencerminkan perjalanan panjang kota — mulai era kolonial, masa perjuangan, hingga perkembangan Probolinggo sebagai kota yang dinamis seperti saat ini. Namun, menurutnya, pelestarian arsip menghadapi tantangan berat di era digital dan disrupsi informasi.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh dua narasumber, yakni Dr. Abdus Sair, dosen sekaligus Wakil Dekan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, serta Dr. Ahmad Hudri, akademisi Institut Ahmad Dahlan Probolinggo. Hery Wijayani bertindak sebagai moderator.
Dalam materinya yang berjudul “Membaca Kembali Probolinggo: Jejak Peristiwa, Kuasa, dan Identitas Lokal”, Abdus Sair menegaskan bahwa sejarah Probolinggo terbentuk dari proses panjang interaksi sosial, mulai pengaruh kerajaan dan kolonialisme, peristiwa politik, hingga migrasi penduduk Madura dan Jawa Tengah. Ia menambahkan bahwa penduduk Probolinggo merupakan masyarakat campuran yang menguasai bahasa Madura dan Jawa.
Sementara itu, Ahmad Hudri menyoroti pentingnya arsip sebagai penopang identitas kolektif suatu daerah. Ia menekankan nilai historis, edukatif, budaya, dan identitas yang terkandung dalam arsip. Hudri juga mendorong kajian ulang penetapan hari jadi Kota Probolinggo, dengan merujuk sejumlah sumber otentik seperti buku karya Dr. J.G.W. Lekkerkerker (1931) dan arsip resmi tahun 1968.
Hudri menjelaskan bahwa pembentukan gemeente pada 1918 dapat dianggap sebagai titik awal Kota Probolinggo modern, sebelum berubah menjadi stadsgemeente pada 1926, dengan Ferdinand Meijer sebagai burgemeester pertama pada 1928. Fakta sejarah ini, menurutnya, penting dijadikan dasar diskusi ilmiah untuk penetapan hari jadi kota.
Diskusi berlangsung dinamis dengan banyaknya tanggapan dari peserta yang terdiri atas tokoh masyarakat, akademisi, pegiat literasi, hingga pegiat seni dan budaya. Kegiatan ini rencananya berlanjut dalam bentuk semiloka dan riset lanjutan sebagai bahan rekomendasi. (ada/kun)






