Kediri (beritajatim.com)– Keberadaan Kampung Inggris di Pare, Kabupaten Kediri, kembali menjadi bahan penelitian dari sejumlah akademisi.
Salah satunya adalah Abdurrahman, dosen Fakultas ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB) sekaligus peneliti di bidang ekonomi kreatif dan pendidikan, mengungkapkan hasil riset terbarunya tentang dampak sosial dan ekonomi dari kawasan pendidikan bahasa Inggris yang telah mendunia tersebut.
Dalam penelitian lapangannya, Abdurrahman yang juga sebagai Komisaris di Perusahaan Abhinaya Indo Group menegaskan bahwa Kampung Inggris tidak hanya berperan sebagai pusat peningkatan kompetensi bahasa, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
“Arus pelajar dari berbagai daerah menciptakan multiplier effect pada sektor hunian, kuliner, transportasi, dan UMKM sekitar Pare. Dengan pengelolaan yang adaptif serta dukungan pemerintah daerah, Kampung Inggris berpeluang mempertahankan eksistensinya sebagai ikon pendidikan bahasa berbasis masyarakat di Indonesia,” kata Abdurrahman, Selasa (11/11/2025) dalam surat elektronik yang dikirim ke redaksi beritajatim.com.
Menurut hasil analisis ekonomi yang ia paparkan, keberadaan ribuan pelajar yang datang setiap bulan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kediri.
Dalam penjelasannya, Abdurrahman menggunakan pendekatan Keynesian Multiplier untuk menggambarkan besarnya efek ganda (multiplier effect) tersebut.
Dengan asumsi marginal propensity to consume (MPC) masyarakat Pare mencapai 0,8 atau 80 persen, maka nilai pengganda ekonomi (k) mencapai 5. Artinya, setiap Rp1 juta yang dibelanjakan pelajar di Pare dapat menciptakan perputaran ekonomi sebesar Rp5 juta bagi warga sekitar.
“Jika rata-rata 20.000 pelajar membelanjakan Rp2 juta per bulan, total perputaran ekonomi yang dihasilkan bisa mencapai sekitar Rp200 miliar per bulan,” jelas Abdurrahman.
Dampak ekonomi ini juga dirasakan langsung oleh warga setempat. Banyak rumah yang bertransformasi menjadi usaha kos-kosan, warung makan, laundry, percetakan, hingga toko sepeda.
“Sekarang hampir setiap rumah punya kamar kos. Dulu sawah, sekarang jadi kos-kosan, warung makan, atau laundry dan tempat kursus,” ujar Fatimah Rahma (47), warga Desa Tulungrejo yang sudah delapan tahun mengelola usaha kos-kosan Rahma House.
Pemerintah Kabupaten Kediri pun mengakui bahwa sektor jasa di wilayah Pare kini menjadi salah satu penyumbang terbesar PAD daerah, sebagian besar berkat geliat ekonomi yang tumbuh dari aktivitas pelajar dan lembaga kursus di Kampung Inggris.
Dengan potensi ekonomi yang terus berkembang dan dukungan ekosistem pendidikan yang kuat, Kampung Inggris Pare dipandang layak menjadi model ekonomi berbasis pendidikan yang mampu menggabungkan pemberdayaan masyarakat, peningkatan kompetensi, dan pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (ted)
Hasil tulisan dan laporan riset lengkap bisa dilihat di halaman postingananda






