Surabaya (beritajatim.com) – PT Merdeka Copper Gold Tbk (BEI: MDKA) terus menunjukkan ketangguhannya di tengah dinamika industri tambang global. Hingga kuartal III 2025, perusahaan ini mencatatkan kinerja operasional yang solid, didukung oleh produksi stabil emas dan tembaga, lonjakan kinerja sektor nikel melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (BEI: MBMA), serta kemajuan signifikan pada dua proyek andalan Proyek Tembaga Tujuh Bukit dan Proyek Emas Pani.
Langkah strategis ini menegaskan komitmen Merdeka dalam mengembangkan portofolio multi-komoditas yang berperan penting dalam mendukung transisi energi global dan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen mineral strategis dunia.
Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk, Albert Saputro, menyatakan bahwa 2025 menjadi tahun penuh pencapaian bagi Merdeka.
“Merdeka terus menunjukkan kemajuan dalam operasi tambang, proyek strategis, dan pengelolaan biaya. Proyek Tembaga Tujuh Bukit dan Tambang Emas Pani adalah dua motor pertumbuhan besar kami, sementara sektor nikel melalui MBMA semakin memperkuat posisi perusahaan di ekosistem energi hijau,” ujarnya.
Produksi Emas Stabil, Margin Meningkat
Tambang Emas Tujuh Bukit mencatat produksi sebesar 25.338 ounces emas dengan harga jual rata-rata US$3.275 per ounces, naik 24% dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan emas mencapai 29.629 ounces dengan pendapatan sekitar US$104 juta.
Efisiensi biaya semakin membaik berkat penerapan sistem manajemen armada modern, sementara unit pengeboran baru siap meningkatkan kapasitas produksi pada kuartal IV 2025.
Tambang Tembaga Wetar memproduksi 3.228 ton tembaga dengan biaya tunai US$2,75 per pon, ditopang optimalisasi proses pelindian SX-EW. Kajian lanjutan tengah dilakukan untuk mengembangkan teknologi flotasi dan pelindian tangki demi memperpanjang umur tambang.
Nikel Jadi Motor Pertumbuhan Baru
Lewat anak usaha PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), Merdeka mencatat peningkatan tajam di sektor nikel. Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) memproduksi 2 juta ton saprolit dan 5,6 juta ton limonit, masing-masing naik 89% dan 51% dibandingkan tahun lalu.
Margin Nickel Pig Iron (NPI) meningkat ke US$2.215 per ton nikel, dengan penurunan biaya tunai 16% menjadi US$9.059 per ton.
Pabrik Acid Iron Metal (AIM) memproduksi 251.715 ton asam sulfat, sementara PT ESG New Energy Material menghasilkan 7.181 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan menjual 7.553 ton.
Pembangunan pabrik HPAL milik PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) juga mencapai 54%, dengan target komisioning pertengahan 2026. MBMA bahkan telah menandatangani perjanjian strategis untuk melanjutkan produksi nikel matte mulai kuartal IV 2025.
Proyek Emas Pani,. yang kini dikelola oleh PT Merdeka Gold Resources (BEI: EMAS), telah mencapai 83% progres pembangunan. Setelah IPO sukses pada September 2025, proyek ini resmi memulai penambangan dan “first blasting” pada Oktober 2025. Produksi emas pertama ditargetkan pada kuartal I 2026.
Sementara itu, Proyek Tembaga Tujuh Bukit, salah satu proyek tembaga-emas pra-produksi terbesar di dunia, kini memasuki tahap studi kelayakan. Studi ini akan menentukan desain tambang bawah tanah dan terbuka, optimalisasi proses pengolahan, serta opsi hilirisasi konsentrat pirit untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Hingga September 2025, Merdeka mencatat pendapatan belum diaudit sebesar US$1,298 miliar, turun 22% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya kontribusi nikel dan tembaga, namun sebagian diimbangi oleh kenaikan pendapatan dari segmen emas dan diversifikasi aset lainnya.
“Kami tidak hanya mengejar volume produksi, tapi juga efisiensi dan keberlanjutan. Dengan portofolio emas, tembaga, dan nikel yang kuat, Merdeka berkomitmen menjadi pemain utama dalam mendukung transisi energi global dan penguatan ekonomi nasional,” ungkap Albert.
Dengan strategi multi-aset, efisiensi biaya, serta ekspansi proyek bernilai tinggi, PT Merdeka Copper Gold Tbk menegaskan posisinya sebagai salah satu perusahaan tambang terdepan di Indonesia yang tidak hanya menambang sumber daya alam, tetapi juga menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi masa depan energi dunia.[rea]






