Jember (beritajatim.com) – DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendukung program ‘Gerobak Cinta’senilai Rp 12,656 miliar untuk pelaku usaha mikro. Namun pemerintah daerah diminta tidak mengecat gerobak atau rombong itu dengan warna merah muda.
Warna merah muda identik dengan warna kampanye politik Bupati Muhammad Fawait saat pemilihan kepala daerah. Rencananya, setelah dilakukan adendum, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Jember akan mendistribusikan gerobak atau rombong itu kepada 1.282 pelaku usaha mikro.
Jumlah ini berkurang dari target 2.500 pelaku, menyusul adanya Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 yang mengharuskan penerima manfaat termasuk dalam Desil 1 hingga Desil 5 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Tolonglah, jangan nanti gerobaknya dicat pinky semua. Ini seolah-olah kampanye terselubung untuk selanjutnya. Takutnya ke situ,” kata Nurhuda Candra Hidayat, anggota Komisi B DPRD Kabupaten Jember.
Nurhuda juga mengingatkan Dinas Koperasi dan UMKM tentang kemungkinan pedagang yang menerima bantuan sudah memiliki gerobak atau rombong yang lebih baik.
“Mereka dipaksakan menerima penyeragaman berdasarkan rencana Pemkab Jember untuk menghadirkan keindahan. Padahal sebenarnya mereka tidak membutuhkan bantuan Gerobak Cinta ini,” katanya.
Nurhuda khawatir, gerobak pemberian pemerintah justru akan diperjualbelikan. “Jadinya muspro,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nurhuda mendorong Pemkab Jember untuk membuat program yang menumbuhkembangkan pelaku baru UMKM. “Tidak hanya menyasar UMKM yang sudah ada,” katanya.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini meminta kepada Dinas Koperasi dan UMKM untuk tidak hanya memperhatikan pelaku UMKM di kawasan alun-alun Jember Nusantara.
“Tapi harus menciptakan UMKM baru untuk kemudian difasilitasi dengan diberikan Gerobak Cinta itu, terutama untuk kalangan milenial dan generasi Z,” kata Nurhuda.
Mashudi alias Agus MM, pengamat kebijakan publik Jember, juga berharap semua gerobak tidak dicat dengan warna merah muda. “Prinsipnya, anggaran itu harus dilakukan secara optimal, secara efisien, secara efektif, tepat peruntukannya, besar manfaatnya, dan hindari segala bentuk penyalahgunaan mulai dari perencanaan,” katanya.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jember Sartini mengatakan, pihaknya pernah memberikan bantuan gerobak untuk pelaku UMKM pada 2023. Dia ingin gerobak-gerobak pelaku UMKM tertata rapi.
“Tapi ternyata saudara-saudara kita (pedagang) ini agak susah diatur untuk kita seragamkan. Kalau semuanya seragam, dengan ukuran yang sama, luasan jualannya sama, itu rapi,” kata Sartini.
Berawal dari keseragaman ‘Gerobak Cinta’, menurut Sartini, Dinas Koperasi dan UMKM ingin membuat pusat makanan jalanan atau food street sebagai destinasi wisata. “Kenapa harus seragam? Ya.karena dengan ukuran gerobak yang sama, orang akan nyaman menikmati makanan,” katanya.
“Jadi tidak hanya makanannya yang harus sudah berstandar memiliki izin halal, tapi juga kebersihan makanannya harus diperhatikan,” kata Sartini.
Sartini setuju mendukung tumbuhnya pelaku usaha baru dari kalangan milenial dan generasi Z. Namun dia berharap mereka tidak berdagang di kawasan alun-alun Jember Nusantara yang sudah penuh sesak.
Sartini menyebut kawasan Jember Sport Garden hendak dijadikan lokasi berolahraga dan tempat tumbuhnya pelaku usaha baru. “Para startup-startup itu kita harapkan ke sana nantinya,” katanya. [wir]






