Malang (beritajatim.com) – Kota Malang kembali menegaskan reputasinya sebagai barometer inovasi teknologi di Indonesia. Dua kampus ternama, Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM), secara kompak memborong gelar juara dalam ajang bergengsi Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2025 yang digelar oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemendikti Saintek di Universitas Jember (UNEJ), 22–26 Oktober 2025.
Dalam kompetisi yang diikuti 68 tim dari 44 perguruan tinggi se-Indonesia tersebut, tim-tim dari Malang berhasil menunjukkan hasil riset dan pengembangan kendaraan hemat energi terbaik mereka.
Universitas Negeri Malang (UM) tampil gemilang melalui Semeru Team. Prestasi paling mencolok diraih oleh Semeru Team 1 UM yang berhasil mempertahankan gelar Juara 1 untuk ketujuh kalinya secara beruntun pada kategori Prototype kelas Motor Pembakaran Dalam (MPD) Etanol. Konsistensi luar biasa ini membuktikan bahwa riset UM dalam pengembangan bahan bakar etanol telah mencapai tingkat kematangan tinggi.
Tidak berhenti di situ, Semeru Team 2 UM juga menorehkan hasil membanggakan dengan meraih Juara 3 pada kategori Urban Concept kelas MPD Etanol. Kedua pencapaian tersebut, di bawah bimbingan Ir. Yahya Zakaria, S.T., M.T., dan Avita Ayu Permanasari, S.T., M.T., semakin memperkokoh posisi UM sebagai pelopor inovasi kendaraan hemat energi ramah lingkungan di Indonesia.
Sementara itu, Universitas Brawijaya (UB) juga menunjukkan dominasinya melalui Tim Apatte 62 Brawijaya, yang membawa pulang dua trofi bergengsi. Tim ini berhasil meraih Juara 2 Kategori Urban (MPD) Bensin lewat kendaraan terbaru mereka, Marsela ICE, dan Juara 2 Kategori Prototype (MPD) Diesel melalui kendaraan legendaris Nogososro.
Pencapaian ini mempertegas reputasi Apatte 62 sebagai salah satu tim pionir pengembangan kendaraan hemat energi di Tanah Air, baik di kelas bensin maupun diesel.

Menurut Ibrahim Al Ghifari, dari Administration and External Relation Tim Apatte 62, proses menuju podium tidaklah mudah. “Tantangan terbesar adalah trial and error kendaraan. Karena kami membuat kendaraan hemat energi dari nol, komponen yang harus dirakit sangat banyak, mulai dari sistem kemudi, mesin, elektrikal, hingga body chassis,” ujarnya.
Ia menambahkan, tim kerap menghadapi kendala teknis saat uji coba, mulai dari komponen yang tidak berfungsi optimal hingga kendala waktu. Namun semangat riset dan perbaikan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan mereka.
“Kami selalu berfokus pada penyempurnaan sistem kemudi agar lebih halus, memperbaiki desain mobil agar semakin aerodinamis, dan merakit mesin sendiri agar kinerjanya semakin efisien,” jelas Ibrahim.
Keberhasilan kedua kampus ini juga menjadi bukti kuatnya kolaborasi lintas disiplin. Tim Apatte 62 UB, misalnya, terdiri dari mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultat Teknik, dan Fakultas Ilmu Komputer. Dukungan penuh dari pihak kampus, baik moral, fasilitas, maupun bimbingan intensif dari dosen pembimbing, turut menjadi faktor penting keberhasilan mereka.
Selain mengharumkan nama almamater, kemenangan ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Meski telah sukses di tingkat nasional, Tim Apatte 62 UB tidak berpuas diri. Mereka kini menyiapkan diri untuk melangkah ke ajang internasional Shell Eco-marathon. “Kami ingin menunjukkan bahwa karya anak bangsa dapat bersaing di level internasional. Prestasi ini bukan hanya untuk UB, tetapi juga untuk Indonesia,” pungkas Fredo, anggota tim lainnya. [dan/beq]






