Malang (beritajatim.com) — Paradoks pembangunan kota mengemuka dalam lokakarya pra-Festival Sastra Kota Malang (FSKM) 2025. Narasumber Robbani Amal Romis mengungkap bahwa proses pembangunan kerap berjalan bersamaan dengan pelupaan dan penghancuran jejak sejarah.
“Terkadang pembangunan juga melalui penghancuran,” ujar Robbani dalam lokakarya bertema Membaca Kota dengan Pendekatan Arsitektur di Maliki Plaza, Sabtu (1/11/2025).
Lokakarya yang digelar Komunitas Pelangi Sastra Malang ini mengajak peserta memahami kota tidak hanya dari sudut pandang visual, melainkan melalui jejak sejarah, relasi sosial, serta kuasa ruang yang melekat di dalamnya.
Menurut Robbani, pembangunan kota ibarat lapisan-lapisan yang terus bertumpuk. Dalam pengalamannya melakukan ekskavasi, siklus pembangunan kerap dimulai dari proses melupakan masa lalu. “Membangun sering berangkat dari melupakan,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa arsitektur tidak hanya menjadi karya fisik, tetapi juga representasi masyarakat yang saling membentuk ruang. “Arsitektur membentuk kita (manusia), kita juga membentuk arsitektur,” ujarnya.
Robbani menambahkan, kota dapat dibaca lewat ambisi relasi kuasa, termasuk melalui elemen geometri pada desain bangunan yang bisa menciptakan kesan berbeda antar kelas sosial.
Rasakan Kota dengan Seluruh Indera
Tidak hanya berbicara tentang struktur ruang, Robbani mengajak peserta untuk menggunakan seluruh indera dalam memahami kota. Konsep soundscape (peta suara) dan pemetaan berbasis bau diperkenalkan sebagai cara merasakan ruang secara komprehensif. “Ruang bisa dirasakan atau dialami menggunakan seluruh indera manusia,” jelasnya.
Moderator acara, Asyrofi Al Kindi, menambahkan bahwa bahasa bisa menjadi sarana menjembatani elemen ruang yang sulit direkam, seperti aroma yang melekat pada ingatan kolektif sebuah wilayah.
Persiapan Menuju FSKM 2025
Sebanyak 15 peserta mengikuti lokakarya ini dan diberikan tugas menulis tiga puisi sebagai bentuk interpretasi pengalaman membaca kota.
Ketua pelaksana FSKM 2025, Denny Mizhar, menjelaskan bahwa materi membaca kota menjadi bekal bagi peserta sebelum memasuki sesi teknis penulisan puisi bersama para mentor di pertemuan berikutnya.
“Harapannya peserta tidak hanya menguasai teknik menulis puisi, tetapi juga memiliki alat membaca kota agar karya yang lahir tidak klise dan relevan dengan tema festival,” ucap Denny.
Sebelumnya, peserta telah mempelajari pendekatan sosial-antropologi bersama akademisi Universitas Brawijaya, Anton Novenanto. Lokakarya berikutnya dijadwalkan pada 3 November 2025. FSKM 2025 mengusung tema Simpang Kata, Simpang Kota, yang menyoroti pertemuan gagasan dan ruang urban dalam karya sastra. (dan/kun)






