Surabaya (beritajatim.com) – Peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Universitas Airlangga (UNAIR) tak hanya menjadi momentum refleksi politik, tetapi juga eksplorasi ilmiah tentang akar persatuan umat manusia.
Dalam konferensi bertajuk “Youth Issue for Economic and Sustainable Development” tersebut, Prof. Dr. Phil. Toetik Koesbardiati, DFM., PA.(k)., Guru Besar FISIP UNAIR, mempresentasikan sebuah paparan ilmiah yang kuat di Ruang Majapahit ASEEC Tower, Kamis (30/10/2025).
Dengan judul “OUT OF AFRICA” Prof. Toetik menyajikan data dari proyek genetika global yang secara tegas membuktikan bahwa semua manusia modern berasal dari satu nenek moyang.
Semua Manusia Berasal dari Afrika
Prof. Toetik mengawali paparannya dengan merujuk pada inisiatif besar National Geographic Society yang dikenal sebagai Genographic Project. Proyek ini memanfaatkan analisis genetik dari kromosom Y untuk melacak migrasi manusia purba ke Eropa, Amerika, dan Afrika.
“Temuan dari studi ini mengulangi sebuah kebenaran fundamental: semua manusia modern saat ini diturunkan dari sekelompok kecil manusia yang hidup di Afrika sekitar 120.000 tahun yang lalu,” jelasnya.
Dari Afrika, manusia purba ini melanjutkan perjalanan mereka, diduga sepanjang pantai, menuju Jazirah Arab dan Indonesia.
Migrasi signifikan lainnya ke Eropa terjadi sekitar 45.000 tahun yang lalu. Bukti morfologi dan genetika ini mendukung kuat Teori ‘Out of Africa’ yang menyatakan bahwa seluruh populasi dunia berasal dari satu nenek moyang di Afrika, yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi.
Bencana Toba dan ‘Penyempitan’ Populasi
Prof. Toetik juga menyoroti bagaimana perubahan iklim besar memengaruhi migrasi ini. Sekitar 70.000 tahun yang lalu, dunia mengalami siklus glasial dan interglasial yang menyebabkan degradasi lingkungan. Saat Eropa dan Siberia membeku, Afrika mengalami kekeringan parah.
Peristiwa puncak yang mengubah sejarah genetik manusia adalah Letusan Gunung Toba yang sangat kuat sekitar 70.000 tahun lalu.
Abu vulkaniknya mencapai stratosfer, memicu “musim dingin vulkanik” yang menghalangi sinar matahari, mengganggu pertumbuhan tanaman, dan merusak rantai makanan.
“Fenomena ini yang disebut sebagai ‘Bottleneck’ (penyempitan) bagi populasi Afrika, memperkuat gagasan bahwa populasi manusia saat itu sempat menyusut drastis,” papar Prof. Toetik.
Indonesia sebagai Simpul Genetik
Penelitian pemetaan iklim yang dikombinasikan dengan studi genetika menunjukkan pola migrasi yang jelas: Homo sapiens dari Afrika bergerak ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebelum menyebar ke Eropa.
Prof. Toetik menyoroti bahwa Afrika dan Asia Tenggara memiliki hubungan genetik dan kultural yang erat, sebagian besar berkat temperatur yang dapat diakses, memungkinkan manusia untuk terus bergerak dan berinteraksi satu sama lain. Ia menyebutkan, kemampuan untuk memproteksi diri dari radiasi UV yang tinggi adalah salah satu faktor kunci adaptasi, berbeda dengan kawasan yang lebih dingin.
Dari Sains Menuju Solidaritas KAA
Paparan ilmiah ini sejalan dengan pesan solidaritas dan persaudaraan yang menjadi inti dari Konferensi Asia-Afrika. Dalam sambutan pembuka, Wakil Rektor Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D., telah menekankan bahwa semangat KAA yang lahir dua jam yang lalu mengedepankan Rasa Hormat, Kesetaraan, dan Kerja Sama antarnegara.
“Fakta bahwa secara genetik kita semua adalah bersaudara harus mendorong kita untuk mempromosikan kesetaraan dan menghilangkan diskriminasi,” tutup Prof. Toetik, menghubungkan temuan sains murni dengan tujuan kemanusiaan universal.
Acara yang dihadiri 150 peserta dari 19 negara—melibatkan akademisi, aktivis, hingga pemimpin komunitas—semakin diperkaya dengan penampilan Tari Jaranan yang dibawakan oleh anak disabilitas binaan BK3S, yang menjadi simbol kuat inklusivitas dan potensi yang selaras dengan semangat kesetaraan yang diperjuangkan sejak 70 tahun silam.
Konferensi yang diprakarsai oleh Konsorsium “70 Years Spirit Bandung” – yang terdiri atas Universitas Airlangga (UNAIR), ALIT Indonesia, KADIN Jawa Timur, Gema Sadhana, Said Aqil Siradj Centre (SAS), serta APHMET/BASE – ini bertujuan menegguhkan kembali Spirit Bandung—solidaritas, keadilan ekonomi dunia, dan kedaulatan bangsa—dalam konteks tantangan abad ke-21. (ted)






