Jombang (beritajatim.com) – Brian Mersa (14), seorang santri Pondok Al Muhibbin Tambakberas, Jombang, tidak menyangka bahwa sebuah cincin kecil yang seharusnya menjadi lambing keindahan, justru menjadi bencana di jarinya.
Cincin titanium itu melingkar erat, dan meski ia mencoba sekuat tenaga untuk melepaskannya, cincin itu seakan menolak untuk pergi. Sakit mulai terasa, jari tangan Brian membengkak dengan cepat, menambah kepanikan yang melanda dirinya.
Saat malam mulai beranjak, remaja dari Sidoarjo ini meringis, berusaha memutar logam keras di jarinya. Berkali-kali dicoba, namun cincin itu tetap tak bergeming. Rasa sakit semakin mengganggu, dan pembengkakan di jari Brian semakin besar.
Ketidakberdayaan itu akhirnya memaksa Brian untuk meminta bantuan. Keputusan yang mungkin dianggap sederhana oleh sebagian orang, namun ini adalah momen yang penuh kecemasan bagi seorang santri muda.
Pada Kamis malam (30/10/2025), sekitar pukul 20.25 WIB, Brian bersama pengasuh pondoknya menuju Pos Damkar Jombang, meminta bantuan untuk melepaskan cincin yang sudah terlalu lama mengikatnya.
Cincin titanium, meski tidak besar, ternyata memberikan tantangan yang cukup berat bagi tim Damkar Jombang. Begitu mereka menerima laporan, tim yang terdiri dari Ronaldo, Mas’oed, dan Andur segera bergerak cepat, namun penuh hati-hati.
Prosesnya pun tidak mudah. Tim Damkar Jombang memutuskan untuk menggunakan alat gerinda mini, karena cincin titanium yang melingkar begitu erat. Dengan keahlian yang dimiliki, mereka tahu betapa pentingnya ketelitian dalam setiap langkah. Tanpa pengamanan yang tepat, sedikit saja kelalaian bisa berisiko melukai jari Brian.
“Proses memotong cincin dengan gerinda mini harus hati-hati. Kami terus menyiramnya dengan air supaya cincin yang terikat tidak panas dan tidak melukai kulit,” kata Mas’oed, salah satu anggota tim Damkar. Mereka bahkan menambahkan pelat pelindung di sekitar jari untuk menghindari luka akibat gesekan gerinda yang tajam.
Brian, dengan mata yang berkali-kali terpejam, merasakan ketegangan saat tim Damkar bekerja. Selama 20 menit penuh, proses itu berlangsung perlahan. Namun berkat kesabaran dan keterampilan, cincin yang semula mengikat erat itu akhirnya berhasil dipotong. Wajah Brian yang semula tegang kini berubah menjadi senyum lega, meskipun rasa sakit di jarinya belum sepenuhnya hilang.
“Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Tidak ada luka serius, dan Brian bisa pulang dengan lega,” tambah Ronaldo, anggota tim Damkar Jombang yang ikut dalam proses tersebut.
Syamsul Bahri, Komandan PMK (Pemadam Kebakaran) Jombang, mengungkapkan bahwa kejadian ini menunjukkan perubahan besar dalam peran Damkar. Seiring waktu, tugas mereka semakin beragam, dari kebakaran hingga kejadian-kejadian darurat seperti ini—penanganan kecelakaan alam, evakuasi hewan peliharaan, bahkan melepaskan cincin yang sulit dilepaskan.
“Tugas Damkar bukan hanya soal api, tapi juga soal keterampilan, keberanian, dan kesiapan dalam menghadapi segala situasi darurat. Kami siap membantu,” ujar Syamsul, yang juga menjabat sebagai Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jombang.
Bagi Brian, malam itu adalah pelajaran berharga tentang bagaimana hal-hal kecil, seperti sebuah cincin, bisa membawa cerita besar dalam kehidupan. Dan bagi para anggota Damkar Jombang, setiap panggilan, sekecil apapun, adalah momen untuk mengabdikan diri—tak hanya untuk menyelamatkan, tetapi juga untuk memberikan rasa aman dan harapan, bahkan dalam situasi yang tak terduga. [suf]






