Yogyakarta (beritajatim.com) – Di tengah arus budaya modern yang serba instan, kelompok seni Wayang Bocah “Kusuma Indriya” dari Yogyakarta membuktikan bahwa warisan budaya klasik masih bisa menjadi sarana pendidikan karakter anak. Melalui serangkaian pelatihan, workshop, dan pementasan akbar, kelompok ini menanamkan nilai-nilai luhur dan membentuk kepribadian unggul generasi muda lewat seni pewayangan.
Menurut M. Heni Winahyuningsih, pimpinan program sekaligus narasumber kegiatan, Wayang Bocah “Kusuma Indriya” hadir untuk mengembalikan fungsi pendidikan secara utuh — bukan hanya mencetak anak yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak, berbudi, dan berperilaku baik. “Kami percaya karakter unggul bisa tumbuh lewat kearifan lokal, bukan sekadar lewat pelajaran di ruang kelas,” ujarnya.
Puncak kegiatan digelar melalui pementasan epik berjudul “Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”, yang bermakna kejahatan akan luluh oleh kebaikan dan ketulusan. Pentas ini melibatkan 105 pendukung, terdiri atas 44 penari anak yang memerankan tokoh Ramayana dan Mahabharata, 22 pengrawit, serta 27 tim produksi. Selain menjadi wadah ekspresi seni, pementasan ini juga menjadi ajang pembentukan karakter dan disiplin bagi anak-anak yang terlibat.
Kegiatan yang berlangsung di Monumen Serangan Umum 1 Maret (Titik Nol Yogyakarta) ini turut dihadiri berbagai tokoh penting, di antaranya Judi Wahjudin dari Kemendikbudristek, Ir. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M. (anggota DPD RI), GPH Indro Kusumo (Pakualaman), Machhendra Setya Atmaja Komisaris BSN, Kepala sub cabang BSN, Supriyono serta akademisi dari ISI Yogyakarta dan UNY. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian kesenian tradisional sekaligus pendidikan karakter anak melalui jalur budaya.
Wayang Bocah “Kusuma Indriya” sendiri merupakan komunitas seni asal Yogyakarta yang berfokus pada pementasan Wayang Wong atau Wayang Orang oleh anak-anak. Melalui latihan rutin tari dan karawitan yang digelar di Pendapa Manisrengga, kelompok ini berkomitmen menjaga warisan budaya Jawa tetap hidup di hati generasi muda.
“Melalui Wayang Bocah, kami ingin menunjukkan bahwa seni tradisi bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan hidup,” pungkas Heni. [aje]






