Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) membawa inovasi teknologi pembelajaran digital canggih langsung ke tingkat akar rumput. Melalui program GURU JAGO (Jaringan Guru Inovatif AR/VR untuk Optimalisasi STEM), para pendidik di pedesaan kini dapat merasakan dan belajar langsung teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR).
Kegiatan perdana GURU JAGO In Saintek UM 2025 ini digelar di Kantor Kepala Desa Sidomulyo, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri. Lokasi ini menjadi titik awal dari rangkaian diseminasi yang akan berlanjut ke Trenggalek, Kabupaten Malang, Tulungagung, dan Blitar.
Program ini merupakan bagian dari Hibah In Saintek 2025 yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kemendikbudristek, serta dilaksanakan oleh Direktorat Inovasi dan PUI-PT DLI (Disruptive Learning Innovation) Universitas Negeri Malang.
Andika Bagus Nur Rahma Putra, S.Pd., M.Pd., dosen Fakultas Teknik UM sekaligus Ketua Tim In Saintek, menjelaskan program ini adalah wujud nyata misi diseminasi inovasi. Melalui PUI-PT DLI dan Direktorat Inovasi, UM berupaya agar hasil riset kampus dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat luas.
“Inovasi yang tidak dibagikan tidak akan berkembang. Kami datang ke desa bukan untuk menunjukkan kecanggihan teknologi, tetapi untuk berbagi pengetahuan agar para guru dapat menggunakannya dalam pembelajaran sehari-hari,” tegas Andika.
Tim In Saintek UM hadir dengan kekuatan kolaborasi lintas fakultas dan generasi. Turut mendampingi Mahfudy Sahly S., M.Pd., dosen Fakultas Teknik, serta mahasiswa S2 PKJ Kintan, Silva dari FIP, juga Arvin dan Reyhan dari Fakultas Teknik yang bertugas sebagai operator teknis.
Program ini didukung penuh oleh Frido, alumni Fakultas Teknik UM yang kini berdomisili di Desa Sidomulyo. Frido berperan sebagai penghubung antara kampus dan masyarakat, memastikan kegiatan berjalan lancar dan menciptakan suasana pelatihan yang hangat.
Suasana aula Kantor Kepala Desa Sidomulyo tampak berbeda dari biasanya pada Rabu (22/10/2025). Ruangan yang biasa dipakai untuk kegiatan masyarakat itu disulap menjadi laboratorium teknologi, lengkap dengan deretan headset VR, perangkat AR, dan proyektor besar.
Pesertanya beragam, mulai dari guru sekolah dasar, pengajar madrasah, hingga guru ngaji, semua hadir dengan antusiasme tinggi. Kegiatan ini dibuka resmi oleh Kepala Desa Sidomulyo, Ibu Purwanti. Didampingi jajaran perangkat desa, ia menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran tim UM yang membawa pelatihan berbasis teknologi hingga ke tingkat desa.
“Kami sangat berterima kasih karena kegiatan ini membuka wawasan baru bagi para guru di desa kami. Banyak di antara mereka yang belum pernah mencoba teknologi seperti ini, dan hari ini mereka bisa langsung belajar dari tim Universitas Negeri Malang,” ujar Ibu Purwanti dengan penuh semangat.
Momen paling ditunggu adalah sesi praktik. Ruangan seketika riuh oleh tawa dan decak kagum. Seorang guru SD tampak terkejut saat dirinya bisa berjalan di dalam sistem tata surya digital melalui headset VR. Di sisi lain, seorang guru ngaji mencoba aplikasi simulasi tiga dimensi untuk memperkenalkan nilai-nilai moral kepada anak-anak.
Banyak guru yang awalnya canggung, perlahan mulai terbiasa dan penasaran. Salah seorang guru pondok pesantren menuturkan, teknologi ini bisa membantu santri memahami konsep alam secara lebih visual.
“Rasanya luar biasa, seolah kita berada langsung di tempat yang sedang dijelaskan. Anak-anak pasti akan lebih mudah paham,” tuturnya sambil tersenyum usai mencoba VR.
Tak hanya mencoba, guru juga dibimbing membuat konten AR sederhana menggunakan ponsel pintar masing-masing. Tim dosen dan mahasiswa mendampingi setiap kelompok dengan sabar. Andika menyebut, keberhasilan program diukur dari keberanian peserta mencoba hal baru.
“Bagi kami, ketika para guru mulai tersenyum dan berkata saya bisa, itulah diseminasi yang sebenarnya,” ujar Andika. Kegiatan GURU JAGO In Saintek UM 2025 ini menjadi bukti nyata komitmen UM dalam menjembatani kampus dengan desa, membawa semangat “Diktisaintek Berdampak” dan “Semesta Saintek” ke tengah masyarakat.
Program GURU JAGO selain pelatihan teknologi juga jadi gerakan sosial untuk membuka akses inovasi bagi semua pengajar. PUI-PT DLI UM, sebagai pusat unggulan iptek, telah menghasilkan beragam produk pembelajaran disruptif yang kini mulai diimplementasikan langsung ke lapangan.
“Kegiatan di Kediri ini akan menjadi model awal untuk pelaksanaan di beberapa daerah lain di Jawa Timur, yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat setempat.
Menjelang sore, acara ditutup dengan penyerahan simbolis media pembelajaran berbasis AR/VR kepada perwakilan guru,” lanjut Andika.
Purwanti menutup acara dengan penuh harapan. “Hari ini kami membuktikan bahwa desa juga bisa menjadi tempat tumbuhnya inovasi. Terima kasih kepada Universitas Negeri Malang yang sudah membawa cahaya pengetahuan ke Sidomulyo,” ucapnya. (dan/ted)






