Makkah (beritajatim.com) – Selain mencium Hajar Aswad, jemaah haji dan umrah yang beribadah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi sangat merindukan dan menginginkan bisa sholat di Hijir Ismail (The Hateem), area melengkung yang terletak di sisi barat Ka’bah. Sebab, Hijir Ismail diyakini sebagai sebagian dari bangunan Ka’bah asli yang dibangun Nabi Ibrahim AS, sehingga shalat di dalamnya memiliki keutamaan setara dengan shalat di dalam Ka’bah.
Karena itu, otoritas Masjidil Haram menetapkan jadwal terbaru shalat di kawasan Hijir Ismail (The Hateem) bagi jamaah laki-laki dan perempuan. Policy ini diterapkan untuk menjaga ketertiban sekaligus memberi kesempatan yang adil bagi semua peziarah untuk beribadah di salah satu lokasi paling suci di dunia Islam itu.
Mengutip Himpuh.or.id, seperti dilansir dari The Islamic Information, jemaah laki-laki mendapat waktu beribadah di Hijir Ismail mulai pukul 22.00 hingga 02.00 dini hari. Sedangkan jrmaah perempuan memiliki jadwal pagi hari antara pukul 07.30 hingga 11.00 waktu setempat.
Namun, otoritas menegaskan bahwa waktu ini bisa berubah sewaktu-waktu karena alasan operasional, seperti pembersihan, pemeliharaan area, atau kondisi tak terduga lainnya. Misalnya, pernah terjadi pembukaan area yang tertunda hingga pukul 08.30 pagi, karena kegiatan pembersihan tambahan.
Setiap jemaah biasanya diberikan waktu sekitar 10 menit untuk beribadah di dalam Hijir Ismail. Akses masuk ditentukan melalui pintu barat Masjidil Haram, dengan pengawasan ketat petugas agar tidak terjadi penumpukan jamaah.
Otoritas juga mengimbau agar para pengunjung mematuhi petunjuk dan jadwal yang berlaku. Tujuannya, menjaga kelancaran arus jemaah serta kenyamanan semua pihak. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Arab Saudi dalam memberikan pengalaman spiritual terbaik bagi tamu-tamu Allah di sekitar Ka’bah.
Keistimewaan Hijir Ismail berakar dari sabda Rasulullah SAW yang menyebut bahwa sebagian dari Hijir Ismail termasuk dalam Ka’bah. Dalam hadis riwayat Abu Daud dari Aisyah RA, Rasulullah SAW berkata:
“Aku sangat ingin memasuki Ka’bah untuk melakukan shalat di dalamnya. Kemudian Rasulullah SAW membawa Aisyah ke dalam Hijir Ismail sambil berkata: ‘Shalatlah kamu di sini jika kamu ingin shalat di dalam Ka’bah, karena ini termasuk sebagian dari Ka’bah.’”
Shalat di Hijir Ismail bersifat sunnah, bukan bagian dari rukun atau wajib haji dan umrah. Namun banyak jamaah menjadikan momen istimewa selama berziarah karena diyakini penuh berkah dan ampunan. Beberapa riwayat menyebut bahwa malaikat berada di pintu Hijir Ismail dan memberi kabar gembira kepada siapa pun yang masuk dan menunaikan shalat dua rakaat di dalamnya, bahwa dosanya telah diampuni.
Secara historis, tempat ini dipercaya sebagai bekas kediaman Nabi Ismail AS dan ibunya, Siti Hajar. Awalnya berupa pondasi batu sederhana beratap dedaunan, lokasi ini menjadi bagian penting dari sejarah pembangunan Ka’bah.
Ketika Kaum Quraisy memugar Ka’bah pada tahun 606 M, dinding barat dan timurnya dikurangi sekitar tiga meter karena keterbatasan biaya, sehingga area Hijir Ismail menjadi lebih luas dari 5,5 meter menjadi sekitar 8,5 meter.
Perubahan ini pun diabadikan dalam sabda Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah:
“Tahukah engkau bahwa ketika kaummu membangun Ka’bah, mereka telah mengurangi dasar-dasar yang dibangun Nabi Ibrahim.” [air]






