Malang (beritajatim.com) – Tingginya harga pakan pabrikan menjadi tantangan serius bagi peternak lele di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Kediri. Menjawab persoalan ini, tim pengabdian dari Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan solusi inovatif melalui program ‘BeeSmart Nutrition’.
Tim UM melatih peternak lele di Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, untuk memproduksi pakan (pelet) secara mandiri dengan biaya terjangkau dan ramah lingkungan. Uniknya, inovasi ini memanfaatkan lilin lebah (beeswax) sebagai perekat alami.
Pelatihan yang berlangsung pada Agustus 2025 lalu itu berfokus pada penerapan bioteknologi sederhana berbasis ekonomi sirkular. Tujuannya untuk mendorong kemandirian peternak agar tidak lagi bergantung penuh pada pakan pabrikan yang harganya terus melambung.
Program pengabdian ini diawali dengan penyerahan satu unit alat pembuat pelet kepada kelompok peternak setempat. Bantuan alat diterima langsung oleh Parmin, selaku perwakilan peternak, dari Agung Wibowo, M.Pd., anggota tim pengabdian yang mewakili ketua tim, Agung Witjoro, S.Pd., M.Kes.
Antusiasme peternak terlihat jelas saat sesi praktik pembuatan pelet dimulai. Tim UM memandu setiap tahapan secara rinci, mulai dari penimbangan bahan, pencampuran, hingga proses pencetakan dan pengeringan.
“Kami tidak hanya praktik, tapi juga diskusi intensif mengenai nutrisi pakan. Fokusnya adalah bagaimana menyeimbangkan kadar protein, lemak, dan serat yang sesuai dengan fase pertumbuhan ikan,” jelas Agung Wibowo kepada beritajatim.com, Rabu (22/10/2025).
Inovasi utama dari program BeeSmart Nutrition ini terletak pada komposisi bahan bakunya. Tim UM memanfaatkan bahan-bahan lokal yang sering dianggap limbah namun bernilai tambah.

Bahan baku tersebut antara lain tepung ikan yang diolah dari limbah pengolahan ikan, bekatul (limbah penggilingan padi), dan lilin lebah (beeswax) sebagai perekat alami.
“Kombinasi bahan ini tidak hanya menekan biaya produksi secara signifikan, tetapi juga meningkatkan nilai gizi pakan. Pemanfaatan limbah organik ini sekaligus menerapkan konsep circular economy yang ramah lingkungan,” tambah Agung.
Selain menekan biaya, aspek kelayakan produksi juga menjadi topik diskusi utama. Tim UM memastikan bahwa teknologi yang diajarkan bersifat sederhana, mudah dioperasikan, dan dapat direplikasi secara mandiri oleh para peternak.
Dengan adanya transfer teknologi dan pengetahuan ini, program BeeSmart Nutrition diharapkan menjadi solusi nyata bagi peternak lele di Desa Banjarejo.
“Harapan kami, program ini dapat memperkuat kemandirian peternak, mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan, dan mendukung keberlanjutan usaha perikanan di tingkat desa,” tutup Agung Wibowo. (dan/but)






