Surabaya (beritajatim.com) – Fotografi olahraga, khususnya di bidang lari dan padel, kini menjadi ladang cuan baru bagi anak muda di Surabaya. Seiring menjamurnya area lari di kota ini—mulai dari Lapangan Thor, kawasan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), hingga Jatim Seger—banyak fotografer lepas mulai melirik segmen ini sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.
Salah satunya adalah Muhammad Ananda Perdana, fotografer muda berusia 25 tahun asal Surabaya. Awalnya, Nanda—sapaan akrabnya—merupakan fotografer konser atau panggung musik. Namun, sejak melihat peluang kerja yang lebih ringan dan fleksibel di dunia olahraga, ia memutuskan mencoba peruntungan menjadi fotografer pelari.
“Basic saya fotografer konser, namun saya melihat peluang saat ini dan jam kerja lebih ringan karena kalau motret olahraga pagi atau sore selesai, dan ternyata menarik juga. Akhirnya kini beralih bukan karena fomo, tapi karena ingin mencoba hal baru di luar stage atau konser,” ujar alumnus Universitas Negeri Surabaya itu kepada beritajatim.com, Selasa (21/10/2025).
Nanda memulai karier barunya di Lapangan Thor, salah satu spot favorit masyarakat Surabaya untuk berlari. Di lokasi itu, ia biasanya memasang kertas bertuliskan akun media sosialnya agar para pelari bisa dengan mudah menemukan dan membeli hasil jepretannya.
“Kalau dibilang fomo, menurut saya lebih ke memanfaatkan momen saja karena sekarang lari lagi hype. Ini trend positif untuk masyarakat. Banyak juga teman-teman fotografer pelari lain yang sebelumnya kerja di bidang lain, seperti olahraga, stage, atau wedding,” imbuhnya.
Fenomena ini pun melahirkan komunitas baru di kalangan fotografer Surabaya. Banyak di antara mereka yang awalnya bekerja di segmen pernikahan atau konser, kini beralih menangkap momen-momen olahraga, baik secara personal maupun komunitas.
Menurut Nanda, momen dalam olahraga lari justru sangat dinamis dan penuh ekspresi. Klien personal sering kali memberikan permintaan foto unik dan personal, mulai dari gaya berlari hingga ekspresi finish. “Moment yang diabaikan ketika berlari itu beragam, dan kadang klien punya request khusus yang membuat motret olahraga jadi seru,” ujarnya.
Untuk harga, Nanda mematok tarif terjangkau. Satu foto dibanderol sekitar Rp25 ribu, dan hasilnya bisa dibeli langsung atau melalui platform aplikasi Fotoyu. “Kalau jual di Fotoyu, tapi kalau ada orang yang tanya langsung on the spot yang belum tahu tentang Fotoyu, kadang transaksi di luar aplikasi,” jelasnya.
Ia juga memberi kemudahan bagi klien dengan sistem pemesanan fleksibel. “Bisa juga booking komunitas lari atau janjian perorangan, jadi lebih fleksibel dan bisa diatur jam serta lokasinya,” tutupnya.
Fenomena fotografer pelari seperti Nanda menunjukkan bagaimana tren olahraga bisa membuka ekosistem ekonomi kreatif baru di Surabaya. Tak hanya mengabadikan momen kebugaran, tapi juga menjadi simbol sinergi antara gaya hidup sehat dan kreativitas anak muda. [way/beq]






