Sampang (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Sumenep menyiapkan lahan seluas 10 hektare di wilayah Patean untuk pembangunan Gedung Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) Sumenep. Lahan tersebut telah diserahkan kepada Pemerintah Pusat yang akan menangani langsung proses pembangunan fisik sekolah.
“Pemkab Sumenep sejalan dan mendukung program Pemerintah Pusat. Terkait sekolah rakyat, tugas daerah itu menyediakan lahan untuk gedung sekolahnya. Nanti pembangunannya urusan Pemerintah Pusat,” kata Bupati Sumenep, Ach. Fauzi Wongsojudo, Rabu (8/10/2025).
Menurut Bupati Fauzi, Pemkab Sumenep telah menuntaskan penyediaan lahan, dan kini tinggal menunggu jadwal pembangunan dari Pemerintah Pusat. Ia meyakini, keberadaan sekolah ini akan menjadi tonggak penting pemerataan akses pendidikan di Madura.
“Sekali lagi, itu merupakan kewenangan pusat. Tapi saya yakin, nantinya di Sumenep ini akan jadi sekolah rakyat yang paling bagus. Nanti ada lapangan sepak bolanya, ada kolam renangnya. Jadi siswa tidak perlu keluar. Cukup di sekolah saja, fasilitasnya sudah lengkap,” ujarnya.
Sebelumnya, Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 49 di Kabupaten Sumenep telah resmi diluncurkan pada Selasa (30/9/2025). Saat ini tercatat sebanyak 96 siswa menempuh pendidikan di SRT Batuan, terdiri dari 46 siswa jenjang Sekolah Dasar dan 50 siswa jenjang Sekolah Menengah Pertama.
“Ini merupakan upaya kesejahteraan pendidikan. Program sekolah rakyat ini merupakan salah satu cara agar anak-anak dari keluarga tidak mampu, jangan sampai putus sekolah karena tidak ada biaya,” terang Bupati Fauzi.
Ia menambahkan, sekolah rakyat mengusung kurikulum terintegrasi yang menggabungkan pendidikan akademik, kearifan lokal, digitalisasi, serta pembentukan karakter religius dan budaya.
“Siswa di sekolah rakyat ini memang dipersiapkan menjadi anak-anak hebat yang lebih unggul dibanding sekolah lain di Sumenep. Semua fasilitas ada. Anak-anak tinggal belajar saja yang rajin,” katanya.
Seluruh siswa sekolah rakyat tinggal di asrama yang disediakan pemerintah, bersama sejumlah guru yang juga menginap untuk mendampingi dan membimbing siswa. Setiap hari, para siswa mendapatkan makan tiga kali dan kudapan dua kali.
Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) kategori desil satu dan dua. Desil satu mencakup keluarga sangat miskin dengan pengeluaran per kapita di bawah Rp500 ribu per bulan, sedangkan desil dua adalah keluarga miskin dengan pengeluaran sekitar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu per bulan. [tem/beq]






