Gresik (beritajatim.com)- Batik Zulpah, salah satu mitra binaan unggulan Petrokimia Gresik (PG) yang kini banyak dikenal luas.
Berkat sentuhan inovasi yang tetap menjaga keaslian motif budaya pesisir Tanjungbumi Bangkalan, batik warisan lokal ini mendapat sambutan hangat tidak hanya dari pecinta wastra nusantara tapi juga di luar negeri.
Bermula dari produksi rumahan di Desa Tanjungbumi, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Kabupaten Bangkalan.
Batik Zulpah berhasil berkembang menjadi salah satu pelaku UMKM yang diperhitungkan, berkat pembinaan intensif dari pemerintah dan Petrokimia Gresik. Mitra binaan ini telah mengikuti berbagai pelatihan manajemen usaha, pemasaran digital, hingga peningkatan kualitas produksi.
Alim Hafidz dan Wurrotul Muhajjalah pasangan suami istri yang juga pembatik asal Tanjungbumi Bangkalan menceritakan hampir 90% proses pembuatan batik zulpah tenaga kerjanya berasal dari perempuan yang membantu ekonomi keluarga.
“Mereka bekerja sebagai tenaga kerja sampingan. Satu lembar kain batik dilakukan banyak orang. Mulai dari mendesain, membatik, pencucian, hingga finishing,” ujarnya kepada beritajatim.com, Senin (6/10/2025).
Motif batik Tanjungbumi yang khas, seperti motif ombak, daun lontar, dan burung merak, dikemas dengan teknik pewarnaan alami yang ramah lingkungan. Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri. Karya Batik Zulpah berhasil menarik perhatian kolektor dan pelaku industri mode dari berbagai negara seperti Jepang, Perancis, dan Australia.
Proses pembuatannya pun dilakukan secara tradisional. Selama 4 hingga 7 jam lanjut dia, proses tersebut dikerjakan oleh para pembatik dengan penuh ketalatenan. Dengan memakai sistem borongan sebagai pengganti upah selama proses berlangsung. Para pembatik menerima Rp 75 ribu.
“Pekerja yang membantu kami sangat bersyukur. Mereka layaknya seniman yang turut mempertahankan warisan budaya leluhur supaya tetap eksis tak kelam ditinggal jaman,” ungkap Alim Hafidz.
Ia menambahkan, kesuksesan batik zulpah selama ini juga tak lepas dari kegigihannya bagaimana mempertahankan warisan orang tuanya hingga dikenal banyak orang. Dengan tekad serta kewirausahaan yang kuat. Batik Zulpah tidak hanya membawa daerah. Tapi sudah mampu bersaing di panggung nasional maupun global.
“Batik zulpah menjadi membawa mitra binaan Petrokimia Gresik sejak tahun 2010 hingga sekarang. Kami benar-benar dibina, dibimbing, ikut pameran sampai terkenal,” imbuhnya.
Sejak menjadi mitra binaan anak usaha Pupuk Indonesia ini. Berbagai event telah diikuti oleh Alim Hafidz. Sehingga, produknya naik kelas dan hasil produksinya banyak dicari customer.
Sementara itu, secara terpisah Dirut Petrokimia Gresik, Daconi Khotob menuturkan saat ini perusahannya 8 UMKM batik dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
“Batik bukan sekadar warisan budaya bangsa, tetapi juga telah menjadi produk yang mampu menggerakkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Delapan mitra binaan batik Petrokimia Gresik antara lain Batik Bangsawan, Zulpah Batik, Batik Zaenal Gedog, Batik Tulis Sari Warni, Mekar Sari, Hamdan Batik, Kidang Kencana Rizki, dan Batik Sari Kenongo. Mereka berasal dari beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, yaitu Gresik, Bangkalan, Tuban, Madiun, Rembang, dan Sidoarjo.
Pendampingan komprehensif, mulai dari akses permodalan melalui Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK). Serta memberikan kesempatan mitra untuk mengenalkan produk masyarakat luas melalui pameran dan bazar, memfasilitasi mitra untuk promosi dan menjual produknya melalui UMKM Corner dan pusat perbelanjaan.
“Sejumlah mitra bahkan telah kami ikutsertakan dalam ajang internasional, Seperti Indonesian Investment Forum di Copenhagen, Denmark tahun 2024, KTT ASEAN di Labuan Bajo dan G20 di Bali beberapa waktu lalu. Selain memperkenalkan batik kepada dunia, kami juga ingin produk mitra binaannya mampu menembus pasar global” papar Daconi.
Lebih lanjut Daconi mengungkapkan, sejumlah produk batik dari mitra binaan kini semakin diminati pasar mancanegara. Batik Zulpah misalnya, yang sebelumnya hanya dipasarkan di daerah. Kini telah menembus pasar nasional bahkan internasional.
“Dengan mengenalkan batik, kita menghargai dan melestarikan warisan budaya nenek moyang. Selain itu juga memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui pelaku usaha batik yang saat ini ada di Indonesia,” pungkasnya. (dny/ted)






