Malang (beritajatim.com) – Di balik pasokan susu sapi berkualitas tinggi yang telah lama menopang ekonominya, Desa Sumberagung di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, ternyata menyimpan potensi tersembunyi. Mulai dari varietas durian jingga yang eksotis, kopi robusta unggulan, hingga jejak sejarah pahlawan Gowa, Karaeng Galesong.
Potensi luar biasa ini menjadi sorotan utama dalam inisiatif yang digagas oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Malang (UM). Melalui talkshow inspiratif dan peluncuran e-book, mereka memulai langkah strategis untuk membawa pesona Sumberagung ke panggung yang lebih luas melalui digitalisasi.
Langkah ini diambil setelah mengidentifikasi sejumlah tantangan yang menghambat kemajuan desa, meskipun kaya akan sumber daya alam dan budaya. Dalam talkshow bertajuk “Menghidupkan dan Mengembangkan Potensi Desa Sumberagung” yang digelar pada akhir September lalu terungkap beberapa persoalan mendasar.
Herwanto, perwakilan perangkat desa, memaparkan bahwa banyak produk unggulan seperti susu, kopi, dan durian masih dijual dalam bentuk mentah tanpa branding yang kuat, sehingga nilai ekonominya belum maksimal.
“Potensi wisata religi di Makam Karaeng Galesong juga belum dioptimalkan dari sisi narasi sejarahnya. Selain itu, kami menghadapi alih fungsi lahan sawah yang terus terjadi,” ungkap Herwanto di hadapan puluhan tokoh masyarakat, perangkat desa, dan pelaku UMKM.
Menjawab tantangan tersebut, Ahmad Junaidi (Ajun), dosen sastra UM yang menjadi narasumber, menekankan tiga pilar utama untuk kemajuan desa di era modern.
“Kuncinya ada tiga: digitalisasi untuk membuka akses ke dunia luar, kolaborasi antara potensi desa dengan akademisi, dan kesepahaman kolektif untuk menjaga nilai luhur budaya,” jelas Ajun melalui wawancara dengan beritajatim.com, Senin (6/10/2025).
Tidak berhenti pada diskusi, mahasiswa KKN UM langsung merealisasikan pilar pertama dengan meluncurkan e-book berjudul “Menyusuri Potensi Desa Sumberagung: Dari Jejak Sejarah hingga Kekayaan Alam yang Melimpah.”
Karya digital ini bukan menjadi undangan terbuka bagi dunia untuk mengenal kekayaan Sumberagung secara mendalam. Beberapa potensi yang diangkat dalam e-book tersebut salah satunya soal susu sapi perah berkualitas tinggi yang tulang punggung ekonomi, susu dari Sumberagung telah dipercaya oleh industri besar sekelas Nestlé, membuktikan kualitasnya.

“Ada juga potensi aroma khas Kopi Ngantang. Dengan lahan lebih dari 600 hektar, kopi jenis Robusta, Arabica, dan Excelsa menjadi urat nadi perekonomian desa. Kemudian ada durian jingga, varietas durian lokal yang langka dengan daging tebal, rasa manis-pahit yang khas, dan bernilai ekonomi tinggi,” kata Ajun melanjutkan.
Selain itu, ada sejarah heroik Karaeng Galesong. Makam pahlawan asal Gowa yang menjadi simbol perjuangan dan potensi wisata religi yang kuat. Kemudian, pesona waduk Selorejo, bendungan bersejarah yang kini menjadi pusat ekowisata, perikanan, dan rekreasi air.
“Peluncuran e-book ini diharapkan menjadi gerbang awal untuk menarik minat wisatawan, investor, dan para penjelajah. Semoga mahasiswa UM ini bisa membawa semangat kolaborasi dan sentuhan digital mampu membuka jalan bagi desa untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan dikenal dunia,” kata Ajun menutup. [dan/aje]






