Jember (beritajatim.com) – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI menginspeksi dadakan (sidak) dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Achmad Sudiyono, mantan kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (5/10/2025).
Ketua Komnas HAM Anis Hidayah datang dengan didampingi dua stafnya, menyusul kehebohan yang terjadi terhadap sajian MBG di Sekolah Dasar Negeri Bintoro 5, Kecamatan Patrang, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, Anis sudah bertemu dengan jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Jember, Kepala SDN Bintoro 5, dan Nur Fadli, guru yang mempersoalkan kualitas sajian MBG, Sabtu (4/10.2025).
Nur Fadli sempat bikin heboh karena menyebut sebagian sajian MBG dari dapur SPPG yang dikelola Sudiyono basi. Sementara itu, Sudiyono membantah tudingan itu.
Kepala SDN Bintoro 5 Riki Suhermanto mengatakan, MBG diberikan kepada 59 orang siswa di sana. Para siswa kurang familiar dengan menu MBG yang dikirim SPPG, 26 September 2025. “MBG waktu itu spaghetti, salad, wortel, dan kubis. Entah terus itu katanya dikasih mayonnaise dengan cuka,” katanya.
Bau makanan tersebut, menurut Riki, menyengat. “Kami tidak berani mau mencoba pada saat itu. Jadi yang terjadi itu di sayurnya. Kalau spaghetti atau mie-nya itu tidak. Jadi memang tidak sempat dimakan karena kami juga menjaga, takut terjadi sesuatu, Makanya kami sisihkan sayur yang mayonnaise itu,” katanya.
Akhirnya, menurut Riki, para siswa memakan spaghetti. “Sayurnya tidak dimakan,” katanya.
Pihak sekolah sebenarnya sudah melaporkan hal ini kepada petugas pendamping. “Dua petugas pendamping dari SPPG menyaksikan, bahkan disuruh mencoba enggak mau. Waktu itu disuruh mencoba makanan itu biar yakin. Akhirnya, enggak dicoba,” kata Riki.
Mediasi pun digelar antara SDN Bintoro 5 dengan pengelola dapur MBG, 27 September 2025. Selain ahli gizi, pemilik SPPG juga hadir.
“Pihak dari dapur mengklarifikasi kalau itu memang baunya seperti itu. Jadi sayur, wortel, kubis itu mentah, dikasih cuka. Ada cukanya, ada myonnaisenya. Mohon maaf memang anak-anak kurang familiar dengan menu spageti dan salad,” kata Riki.
Mediasi tersebut, menurut Riki, berujung pada penyelesaian masalah. “Kami meminta kepada ahli gizi dan SPPG agar ke depan menunya diperbaiki, karena ini juga program jangka panjang,” jelasnya.
Riki mengatakan, spaghetti baru pertama kali disajikan sebagai menu MBG di sekolahnya. “Kalau sebelumnya bervariasi. Kadang ada rawon, ada pecel, ada burger. Cuma memang murid kami kurang familiar,” katanya.
Riki sempat meminta kepada ahli gizi SPPG Patrang untuk membuat sajian yang sesuai dengan kultur siswa di SDN Bintoro 5. “Kalau enggak ada nasinya, (para iswa) merasa belum makan,” jelasnya.
Nur Fadli berharap MBG dikelola dengan hati-hati. “Ini menyangkut keselamatan anak, pada umumnya di masyarakat pinggiran,” kata pria yang sudah menjadi guru selama 22 tahun ini.
Setelah bertemu Komnas HAM, Nur Fadli semakin bersemangat untuk mengawasi pelaksanaan MBG. “Kami akan melihat dan memantau keberadaan program negara yang sangat besar ini, melihat di lapangan,” katanya.
Sementara itu Achmad Sudiyono lega setelah bertemu Komnas HAM, karena membuatnya semakin terpacu untuk memperbaiki pelaksanaan MBG. “Jangan sampai pelayanan ini menyalahi menyalahi aturan, kualitas, dan petunjuk teknis. Saya senang banget karena apa yang saya sampaikan tidak ada yang saya tutup-tutupi,” katanya.
Sudiyono berterima kasih kepada Komnas HAM yang datang ke Jember. “Sangat tanggap dan sangat cepat merespons,” katanya.
Selama ini Sudiyono mengatakan, SPPG yang dikelolanya sudah bekerja sesuai prosedur standar yang ditetapkan. Namun dia berjanji akan lebih ketat lagi menerapkan prosedur tersebut. “Saya akan lebih hati-hati, saya akan lebih cerewet terhadap dapur,” katanya. [wir]






