Surabaya (beritajatim.com) – Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Jatim mulai mengumpulkan sampel DNA dari keluarga korban yang masih belum ditemukan di reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Proses pengumpulan dilakukan di posko Ante Mortem Polda Jatim sejak Jumat (3/10/2025).
“Kami kumpulkan DNA dari keluarga dekat yang melaporkan ke posko Ante Mortem Polda Jatim,” ujar Kabid Dokkes Polda Jatim Kombes Pol M. Khusnan.
Untuk memperlancar komunikasi, Biddokkes Polda Jatim juga membuat WhatsApp Group (WAG) khusus bagi keluarga korban. Melalui grup ini, diharapkan segala informasi terkait perkembangan identifikasi korban reruntuhan Ponpes Al Khoziny bisa disampaikan secara efektif dan cepat.
Khusnan menjelaskan, pengumpulan sampel DNA dilakukan dengan pengambilan swab mukosa mulut. Prosedur tersebut mengambil lapisan selaput lendir dari bagian dalam mulut, seperti dinding pipi, untuk keperluan pemeriksaan DNA yang akan dicocokkan dengan sampel jenazah apabila ditemukan dalam proses evakuasi.
“Pengambilan sampel DNA korban kita ambil dari keluarga terdekat. Orang tua atau saudara kandung,” pungkas Khusnan.
Ia menambahkan, dengan menggunakan DNA dari keluarga kandung, tim Disaster Victim Identification (DVI) dapat membuat profil DNA pembanding. Data ini penting untuk membantu proses identifikasi jenazah yang sulit dikenali secara visual akibat kondisi pasca-reruntuhan.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast menegaskan pihaknya terus menyiagakan personel dalam proses evakuasi.
“Personel sudah kita plotting mulai dari pengamanan lokasi evakuasi, membantu pemindahan puing-puing bangunan, pengamanan di jalur menuju lokasi hingga petugas dapur lapangan,” ujar Abast.
Ia menyebut, sebanyak 208 personel dari Polresta Sidoarjo jajaran Polda Jatim juga dikerahkan untuk mendukung kelancaran evakuasi korban. [uci/beq]






