Surabaya (beritajatim.com) – Memperingati World Heart Day 2025, National Hospital Surabaya menggelar kegiatan edukasi pertolongan pertama pada henti jantung dengan melibatkan 50 warga sekitar. Acara ini juga dirangkai dengan peluncuran alat inovatif CPR Wrap yang ditujukan sebagai pendukung resusitasi jantung darurat.
Manager Pelayanan Medis National Hospital, dr Jordan Bakhriansyah, Sp. Jp, FIHA, menyebut upaya ini penting mengingat penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Menurutnya, edukasi dasar CPR dapat memberi peluang besar menyelamatkan nyawa sebelum tenaga medis tiba.
“Edukasi henti jantung dan penyediaan alat CPR Wrap adalah wujud kepedulian kami agar semakin banyak orang mampu menyelamatkan nyawa di lingkungan sekitar,” ujar dr. Jordan, Selasa (30/9/2025).
Kegiatan ini meliputi pelatihan dasar CPR (Cardiopulmonary Resuscitation), simulasi langsung menggunakan manekin, serta diskusi seputar faktor risiko penyakit jantung. Selain itu, peserta juga mendapatkan CPR Wrap, alat sederhana yang dapat membantu memandu posisi dan langkah resusitasi saat terjadi henti jantung mendadak.
CEO National Hospital, Ang Hoey Tiong, menegaskan bahwa upaya edukasi ini sejalan dengan misi rumah sakit untuk menghadirkan layanan jantung terdepan sekaligus membangun kesadaran publik. Dia menambahkan, teknologi kesehatan yang dimiliki National Hospital akan melengkapi peran edukasi yang dilakukan ke masyarakat.
“Ditambah dengan layanan jantung mutakhir di Heart Center dan teknologi CT Scan terdepan, kami berharap bisa memberikan waktu respons yang cepat dan akurasi diagnosis optimal untuk pasien jantung di Surabaya dan sekitarnya,” kata Ang.
Berdasarkan data BRIN, penyakit kardiovaskular menyebabkan 651 ribu kematian per tahun di Indonesia, dengan dominasi stroke dan jantung koroner. Bahkan, data terbaru menunjukkan tren serangan jantung pada usia muda meningkat sekitar 2 persen per tahun, menandakan perlunya edukasi sejak dini.
National Hospital berharap momentum World Heart Day bisa mendorong masyarakat lebih peduli pada kesehatan jantung. “Kuncinya adalah gaya hidup sehat, deteksi dini, dan kemampuan masyarakat untuk memberikan pertolongan pertama ketika darurat. Semua ini harus berjalan beriringan,” tutup dr Jordan. [asg/ian]






