Malang (beritajatim.com) – Di tengah upaya pemulihan ekonomi, PT Bank Tabungan Negara (BTN) bergerak cepat untuk menyalurkan dana stimulus pemerintah.
Namun, efektivitas langkah ini dibayangi oleh peringatan keras dari ekonom Universitas Brawijaya(UB) terkait ancaman judi dan pinjaman online.
Bank BTN menyambut positif suntikan dana likuiditas dari pemerintah sebagai bagian dari program pemulihan ekonomi nasional.
Bank spesialis perumahan ini mendapatkan alokasi sebesar Rp25 triliun dan menargetkan dana tersebut akan tersalurkan seluruhnya ke masyarakat dalam 2 hingga 3 bulan ke depan.
Direktur Network and Retail Funding BTN, Rulli Setiawan, mengungkapkan optimismenya bahwa tambahan likuiditas ini akan secara signifikan mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif.
“Kami sambut baik, ini untuk membantu likuiditas perbankan. Kami yakin dalam 3 bulan ke depan, mungkin paling lambat November, apa yang disalurkan pemerintah ini sudah kami salurkan lagi ke masyarakat,” ujar Rulli saat acara BTN Goes to Campus dan Penandatanganan MoU yang digelar pada Kamis (18/9/2025) di Aula GKB A20 lantai 9 Universitas Negeri Malang.
BTN telah memproyeksikan mampu menyerap pembiayaan sebesar Rp8 triliun hingga Rp10 triliun per bulan. Menurut Rulli, sebelum adanya stimulus ini pun, kapasitas pembiayaan BTN bisa mencapai Rp12-15 triliun setiap bulannya.
“Dengan adanya tambahan likuiditas ini, sebetulnya membuat kita lebih percaya diri bahwa masalah likuiditas bukan sesuatu lagi yang menjadi sulit buat kita,” tambahnya.
Dana tersebut akan difokuskan pada tiga segmen utama, yaitu Kredit Pemilikan Rumah (KPR) baik subsidi maupun non-subsidi, Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dan Kredit Modal Kerja untuk menggerakkan sektor riil.
Rulli juga memberikan sinyal positif terkait suku bunga KPR non-subsidi. Didukung oleh likuiditas yang membaik dan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), ia berharap BTN dapat menawarkan suku bunga yang lebih kompetitif bagi masyarakat.
“Harapannya dengan likuiditas yang semakin baik, harusnya kita bisa turunkan (suku bunga KPR non-subsidi). Posisi kemarin kan BI rate turun lagi,” jelasnya.
Di tengah optimisme yang digaungkan perbankan, Ekonom dari Universitas Brawijaya, Noval Adib, memberikan peringatan keras. Ia khawatir bahwa gelontoran dana stimulus jumbo dari pemerintah yang secara total mencapai Rp200 triliun untuk Himbara berisiko tinggi jatuh ke tangan yang salah jika masalah sosial yang mendasar tidak diatasi.
Menurut Noval, biang keladi utama yang menghambat perekonomian saat ini bukanlah semata-mata soal likuiditas, melainkan wabah judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol).
“Percuma kita diskusi ndakik-ndakik tentang segala macam teori ekonomi kalau penyebabnya adalah faktor-faktor non-ekonomi, yaitu perilaku negatif masyarakat yang suka berjudi dan berutang,” kata Noval dalam keterangan terpisah.
Ia menegaskan, fenomena judol dan pinjol menciptakan lingkaran setan yang merusak produktivitas dan etos kerja. Banyak masyarakat, termasuk penerima bantuan sosial (bansos), terjerat utang pinjol hanya untuk memenuhi hasrat berjudi.
Noval memandang kebijakan stimulus ini bisa menjadi sangat berbahaya jika tidak diiringi dengan penegakan hukum yang tegas terhadap praktik judol (judi online) dan pinjol (pinjaman online) ilegal.
Peringatan ini menjadi catatan penting bahwa keberhasilan sebuah kebijakan ekonomi tidak hanya bergantung pada ketersediaan dana, tetapi juga pada kesehatan sosial masyarakat dan ketegasan aparat dalam memberantas praktik-praktik ilegal yang dapat menggerogoti fundamental ekonomi dari dalam.
“Dengan karakter (masyarakat) seperti ini tentu sangat berbahaya, karena ujung-ujungnya nanti dana jumbo itu akan jatuh juga ke bandar judol atau pinjol,” katanya menutup. (dan/ted)






