Banyuwangi (beritajatim.com) – Ramainya aktivitas pariwisata yang diikuti peningkatan sektor ekonomi kreatif dan UMKM mendorong pertumbuhan ekonomi Banyuwangi terus naik. Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi mencatat, perekonomian daerah ini tumbuh 5,85 persen pada triwulan II 2025 (year on year/yoy).
Kepala BPS Banyuwangi Hermanto menjelaskan, capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur (5,23 persen) maupun nasional (5,12 persen).
“Pertumbuhan Kabupaten Banyuwangi ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Jawa Timur yaitu 5,23 persen serta lebih tinggi dibandingkan nasional yaitu 5,12 persen,” ujarnya saat High Level Meeting (HLM) TPID, TP2ED, dan TP2DD di Aula Rempeg Jogopati, Rabu (17/9/2025).
Hermanto menambahkan, pertumbuhan ini ditopang peningkatan nilai produk domestik regional bruto (PDRB) Banyuwangi. Pada triwulan II 2025, PDRB tercatat sebesar Rp30,149,33 triliun, naik dari Rp27,6 triliun pada triwulan II 2024 dan Rp27,4 triliun pada triwulan I 2025.
Kepala Bank Indonesia Kantor Jember Gunawan menilai lonjakan PDRB dipicu aktivitas sektor sekunder, terutama pariwisata dan ekonomi kreatif yang menggerakkan UMKM. “Antara lain meningkatnya produksi UMKM di tengah peningkatan kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif, terutama saat libur panjang,” jelasnya.
Dari sisi pengeluaran, peningkatan PDRB ditopang konsumsi rumah tangga, seiring naiknya pendapatan masyarakat yang bergerak di sektor sekunder. Ekspor produk makanan laut juga berkontribusi terhadap kinerja positif tersebut.
“Kami akan terus mendukung percepatan ekonomi Banyuwangi dengan mendorong akselerasi APBD, advisory, digitalisasi transaksi, hilirisasi investasi, pengendalian bahan pokok, penguatan UMKM, hingga peningkatan industri manufaktur dan pariwisata,” terang Gunawan.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi seluruh pihak yang berkontribusi menjaga pertumbuhan ekonomi dan inflasi daerah. Menurutnya, capaian 5,85 persen merupakan hasil kerja kolektif.
Ipuk menyebut sejumlah langkah strategis akan dijalankan, mulai dari akselerasi belanja pemerintah, peningkatan produktivitas sektor unggulan, hingga perluasan kesempatan kerja. Ia juga menekankan pentingnya pengendalian inflasi berbasis strategi 4K.
“Untuk menjaga inflasi perlu kita perkuat lagi strategi 4K yakni memastikan Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif,” pungkasnya. [alr/beq]






