Lumajang (beritajatim.com) – Setelah lama belum laku terjual, sebagian gula petani di Kabupaten Lumajang akhirnya mulai diserserap pemerintah hingga kalangan pedagang.
Meski begitu, saat ini ribuan ton gula yang sudah terserap itu masih belum keluar dari gudang penyimpanan milik PG Jatiroto Lumajang.
Imbasnya, kapasitas tampung gudang nyaris melebihi kapasitas (overload) seiring dengan terus bertambahnya produksi gula yang dihasilkan setiap hari.
Sebagai informasi, kapasitas gudang milik PG Jatiroto Lumajang diketahui memiliki daya tampung maksimal hingga 59.500 ton gula. Terhitung sampai akhir bulan Agustus 2025 saja, gudang PG Jatiroto sudah terisi hingga 45 ribu ton.
Manager Keuangan dan Umum PT SGN PG Jatiroto Lumajang Apit Eko Prihantono menyampaikan, produksi gula harian yang bisa dihasilkan setiap hari sebanyak 560 ton.
Hal ini diakui membuat kapasitas gudang penyimpanan menjadi terbatas karena terus terjadi penambahan gula setiap harinya.
Sehingga, untuk mencegah gudang overload, PG Jatiroto Lumajang harus meminta bantuan kepada PG terdekat agar bisa menampung sebagian gula produksi.
“Danantara inikan menyerap gula petani iya, cuman habis itukan gula itu masih ada di gudang, sedangkan kapasitas gudang terbatas karena gula belum diambil. Sehingga kita untuk saat ini perhari 150 ton gula harus dikirim ke PG Semboro,” terang Apit, Kamis (11/9/2025).
Menurut Apit, dari total 9.000 ton gula petani yang belum laku terjual, sebanyak 7.500 ton diantaranya sudah dipastikan terserap.
Diakui, penyerapan sebanyak 6.000 ton gula dilakukan oleh pemerintah melalui Danantara dengan harga Rp 14.500 perkilogram. Sedangkan sebanyak 1.500 ton gula sisanya diserap oleh pedagang.
“Jadi, sekarang masih tersisa 1.500 ton yang belum terserap, ditambah di periode ini 1.000 ton, nanti yang perlu dijual minggu ini kisaran 2.500 ton lewat lelang,” ungkap Apit. (has/but)






