Pacitan (beritajatim.com) – Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 23 Pacitan, Nanang Adang Kusdinar, mengungkapkan awal mula 12 siswanya memilih mengundurkan diri dari sekolah rakyat yang baru berjalan satu setengah bulan.
Menurutnya, hal itu bermula saat orang tua menjenguk anak mereka di asrama. Diduga, para siswa bercerita tidak kerasan, sehingga memicu orang tua untuk mengajukan pengunduran diri.
“Awalnya ada dua anak yang mengundurkan diri pada minggu pertama kegiatan belajar mengajar. Lalu diikuti siswa lain hingga jumlahnya mencapai 12 anak,” kata Nanang saat ditemui, Rabu (10/9/2025).
Pihak sekolah sebenarnya sudah melakukan upaya edukasi kepada orang tua agar tidak terburu-buru menarik anak mereka. Namun, usaha itu tidak membuahkan hasil.
“Ya mungkin karena homesick, belum terbiasa jauh dari orang tua, atau tidak terbiasa dengan pola kehidupan berasrama seperti bangun pagi dan sebagainya,” jelasnya.
Meski begitu, Nanang memastikan jumlah siswa tetap penuh. Sebab, 12 siswa yang keluar sudah langsung digantikan oleh calon siswa cadangan.
“Waktu penjaringan, pendaftar mencapai 166 siswa, sementara kuota hanya 100. Jadi, siswa cadangan yang masuk menggantikan yang mundur. Saat ini sudah penuh kembali,” terangnya.
Nanang menambahkan, dari informasi yang diterima, alasan siswa mundur bermacam-macam. Ada yang pindah ke sekolah umum, ada juga yang memilih bekerja.
“Itu keterangan sementara, karena kami belum melakukan verifikasi lebih lanjut,” pungkasnya. (tri/but)






