Jember (beritajatim.com) – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyerukan semua pihak agar bijak dalam bermedia sosial, agar tidak memprovokasi dan terprovokasi oleh pesan-pesan yang berpotensi merusak situasi.
“Kita coba puasa jari-jarilah, tidak gampang share. Saya yakin kita bisa lebih bijak dalam menyikapi medsos. Kalau tidak bisa bijaksana otomatis gampang tersulut,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah LDII Jember Akhmad Malik Afandi, Kamis (4/9/2025).
Malik melihat terjadinya sejumlah kerusuhan dikarenakan ketidakmampuan warga menyaring informasi dan tayangan video di media sosial. “Apalagi anak-anak muda yang memang sangat aktif dalam dunia medsos,” katanya, berharap tokoh agama ikut mengedukasi penggunaan media sosial agar warga lebih selektif.
DPD LDII Jember mengimbau seluruh warga untuk tetap tenang dan mempercayai aparat dalam proses penegakan hukum. Warga LDII juga diminta tidak gampang percaya pada informasi di media sosial.
“Saring sebelum share itu kita biasakan supaya enggak gampang percaya dan itu terus kami imbau kepada warga (LDII). Kami juga berharap bukan hanya di interal LDII, tapi kami juga perlu imbau kepada masyarakat Jember,” kata Malik.
Hingga saat ini, situasi di Kabupaten Jember masih kondusif, kendati ada dua kali aksi unjuk rasa memprotes kebijakan pemerintah dan polisi. Malik berharap situasi aman dan kondusif ini tetap bertahan.
“Kita butuh keamanan dan kedamaian. Kalau enggak aman dan enggak damai, ibadah enggak lancar. Umat Kristen enggak bisa ke gereja, muslim enggak bisa ke masjid, Hindu enggak bisa ke pura, Buddha enggak bisa ke wihara,” kata Malik.
Malik menyarankan kepada seluruh tokoh agama dan masyarakat agar sering bertemu dan berkomunikasi untuk ikut menjaga situasi tetap kondusif. “Kita semua saudara, kita semua Indonesia. Harapannya umat di bawah tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terpancing, tidak percaya pada berita-berita di media sosial, karena tokoh-tokoh sudah bergandengan tangan,” katanya.
“Ibarat perahu, Jember ini kan perahu besar. Harapan kita tidak ada yang bocor di perahu itu. Cara tidak bocor ya harus bergandengan tangan. Harus sering komunikasi, sering ketemu, sering menyamakan persepsi,” kata Malik. [wir]






