Malang (beritajatim.com) – Gejolak internal melanda organisasi mahasiswa Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara.
Koordinator Daerah Jawa Timur secara resmi melayangkan mosi tidak percaya kepada Pimpinan Pusat BEM Nusantara. Langkah ini dipicu oleh keputusan pimpinan pusat yang dinilai sepihak, inkonstitusional, dan mengkhianati kedaulatan forum daerah.
Konflik bermula dari pelaksanaan Temu Daerah BEM Nusantara Jawa Timur yang sah, sesuai SK resmi, di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Forum musyawarah tersebut berjalan demokratis dan diikuti oleh perwakilan kampus se-Jawa Timur, yang akhirnya menetapkan Naufal Risky Firdaus sebagai Koordinator Daerah terpilih.
Namun, di tengah proses yang sah tersebut, sekelompok kecil peserta memisahkan diri. Mereka kemudian menggelar pertemuan ilegal di sebuah vila di Kota Batu dan menunjuk M. Zainnur Abdillah sebagai koordinator tandingan.
Secara mengejutkan, Pimpinan Pusat BEM Nusantara justru mengesahkan kepemimpinan dari forum ilegal tersebut.
Keputusan ini dianggap cacat hukum karena jelas bertentangan dengan AD/ART dan SK resmi organisasi yang telah ada. BEM Nusantara Jawa Timur memandang tindakan Pimpinan Pusat bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan bentuk arogansi kekuasaan yang mencederai nilai demokrasi mahasiswa.
“Ini adalah pengkhianatan terhadap otonomi daerah. Jika di tingkat mahasiswa saja sudah berani menginjak hukum organisasi, bagaimana nanti ketika mereka berada di panggung politik yang lebih besar?” tegas pernyataan resmi Koorda Jawa Timur, Naufal Rizky Firdaus, Kamis (4/9/2025).
Mereka juga menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan lahir dari amanah daerah, bukan dari tanda tangan sepihak pimpinan pusat. “Pusat lahir karena daerah, bukan daerah tunduk kepada pusat,” lanjut Naufal Rizky Firdaus dalam pernyataan.
Pernyataan Sikap dan Dukungan Kampus
Atas dasar itu, BEM Nusantara Jawa Timur secara solid menyatakan sikap:
1.Menolak dan tidak mengakui keputusan Pimpinan Pusat BEM Nusantara terkait penetapan Koordinator Daerah Jawa Timur dari forum ilegal.
2. Mengajak seluruh daerah di Indonesia untuk melawan intervensi sepihak, karena ancaman terhadap Jawa Timur hari ini dan hal serupa bisa terjadi pada daerah lain di esok hari.
Pernyataan mosi tidak percaya ini ditegaskan melalui dukungan puluhan kampus anggota yang tersebar di seluruh Jawa Timur, meliputi:
Universitas Bondowoso
STAI Ma’arif
IAI Nazhatut Thullab
STAI Muafi
STAI Al Muntahy
IKIP Widya Dharma
STAIM Magetan
STAIM Kendal Ngawi
Institut Teknologi dan Bisnis Trenggalek
UNUSA
Universitas Anwar Medika Sidoarjo
UNU Pasuruan
UNIWARA
Unmer Pasuruan
STAI Alyasini
Yadika
STAIRua
Stikes Sukma Wijaya
UNT
STAIZA
STAI Walisongo
STAI Al-Hamidiyah Bangkalan
STAIMA Al Hikam Malang
ITB Widyagama Lumajang
AMIK Taruna Probolinggo
Universitas Zainul Hasan Genggong
STAI Darul Hikmah Bangkalan
Universitas Muhammadiyah Malang
STAIM Probolinggo
Universitas Panca Marga Probolinggo
STIEG
Yudharta
IAINUBA
STAI Blega Assabrowiyyah Bangkalan
STIU Darussalam Bangkalan
UNIB Situbondo
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Zaha Genggong
STIT Miftahul Ulum Bangkalan
STAIBU Lumajang
STKIP PGRI Lumajang
Universitas Tribuana Tunggadewi Malang
Universitas Islam Malang
IAINU Tuban
Universitas Al Hikmah Indonesia
STEBI Al Anwar Bangkalan
STKIP Muhammadiyah Lumajang
Universitas Lumajang
Universitas Syarifuddin Lumajang
IAM Lumajang
UNIRA Malang
Sikap perlawanan ini ditutup dengan pesan kuat, “BEM Nusantara bukan panggung ambisi pribadi. Jika pusat memilih jalan manipulasi, maka kami memilih jalan perlawanan. Karena sejarah membuktikan: setiap kekuasaan yang dibangun tanpa legitimasi, akan runtuh tanpa kehormatan,” tegas Naufal. (dan/ted)






