Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) secara resmi membuka Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) secara daring, Senin (1/9/2025).
Di tengah situasi keamanan yang tidak kondusif, Rektor Unusa, Prof. Achmad Jazidie, mengajak seluruh peserta dan panitia untuk mendoakan para korban yang gugur saat memperjuangkan aspirasinya, seraya mengutip Surat Al-Maidah ayat 32. “Khususnya saudara kita Affan Kurniawan, Al-fatihah,” ucapnya.
Prof. Jazidie juga membacakan kutipan ayat tersebut, yang memiliki arti, “… barang siapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena orang itu berbuat kerusakan di muka bumi, maka sesungguhnya seakan-akan dia membunuh semua manusia.”
PKKMB Unusa kali ini mengusung tema “Empowering With VISION: Values Driven Innovation for A Sustainable Future.” Tema ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan membentuk karakter mahasiswa baru agar menjadi generasi visioner, berintegritas, dan mampu berkontribusi bagi bangsa.
“Di Unusa, mahasiswa baru akan ditempa menjadi manusia terbaik yang sebesar-besarnya dapat memberikan manfaat bagi sesama,” ujar Prof. Jazidie. Ia menekankan pentingnya tiga kompetensi utama, yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau tata krama.
Rektor juga mengingatkan para mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan kemahasiswaan tanpa melalaikan tanggung jawab akademik. “Menjadi pribadi yang mencintai kebenaran dan tanah air, kalian harus aktif dalam kemahasiswaan namun juga jangan lalai dalam akademik,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK-Indonesia), Prof. Yudi Latif, menekankan peran strategis mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa. Ia mencontohkan para pelopor bangsa yang lahir dari kalangan pemuda. “Mahasiswa berperan penting dalam jejak sejarah Indonesia,” ujarnya.
Prof. Yudi mendorong mahasiswa untuk menjadi pribadi yang bijak, cerdas, dan mampu memberikan solusi. Ia juga membedakan antara sikap kritis yang membangun dan tindakan barbar yang merusak. “Kritis harus tetap dikukuhkan, karena itu adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai intelektual. Namun, kita harus membedakan sikap kritis dengan barbaris,” pungkasnya. [ipl/kun]






