Madiun (beritajatim.com) – Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) terus melakukan langkah strategis untuk menjaga kestabilan harga gula petani. Pada Rabu (20/8/2025) lalu, APTRI membagi dua tim kerja. Tim pertama melakukan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi VI DPR RI, sementara tim kedua melakukan koordinasi dengan Badan Pangan Nasional, Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), serta pedagang gula.
Ditemui dirumah Selasa (26/08/2025), wasekjen DPN APTRI Jawa Timur, M. Aji Kurniawan, mengatakan Rabu (20/08/2025) kemarin, APTRI membagi dua tim, yakni RDPU dengan Komisi VI DPR RI dan koordinasi dengan Badan Pangan Nasional, AGRI, serta pedagang gula. “Pemerintah sudah menekan AGRI agar gula rafinasi tidak masuk pasar konsumsi. Di Madiun sejauh ini tidak ada rembesan,” ujarnya.
Terkait giling tahun ini, petani di bawah naungan PG Rejoagung dinilai lebih terjamin. “Setiap Rabu pembayaran tebu selalu lancar. Petani bisa fokus menebang tanpa khawatir soal pencairan,” kata Aji. Saat ini produksi sekitar 1.000 ton gula per minggu, dengan rendemen di bawah 7 persen.
APTRI juga mendorong keterlibatan Danantara untuk membantu penyerapan gula petani melalui Bulog atau ID Food. “Dana Rp1,5 triliun setara 103 ribu ton hanya cukup tiga minggu produksi. Tapi paling tidak harga aman di Rp14.500,” tegasnya.
Menurut Aji, di wilayah Sinergi Gula Nusantara (SGN) banyak petani terpaksa menjual di bawah HPP karena terdesak biaya operasional. “Karena itu harga harus dijaga agar petani bisa bertahan hingga akhir giling,” pungkasnya. [rbr/aje]






