Jember (beritajatim.com) – Hadiah cokelat dari Bupati Muhammad Fawait membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk 95 orang siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 6 Jember, Jumat (15/8/2025) sore.
Cokelat diberikan kepada sejumlah siswa yang memberanikan diri untuk maju dan bercakap-cakap dengan Bupati Fawait saat sesi sambutan. “Kamu kelas berapa? Ingin jadi apa?” tanya bupati termuda dalam sejarah Kabupaten Jember itu.
Selain menanyakan nama, alamat, dan cita-cita anak-anak itu, Fawait menanyakan kesiapan mereka. “Krasan ya sekolah di sini?” tanya Fawait yang dijawab bersemangat oleh anak-anak itu.
Fawait menyebut pemberian cokelat itu memiliki makna cinta. “Itu adalah makna cinta, bahwa pemimpin yang cinta pada rakyatnya, khususnya calon-calon generasi penerus. Saya yakin sekolah rakyat ini kalau berhasil, kalau sudah jalan, apalagi kalau gedung yang sembilan hektare sudah berdiri, itu akan menjadi gedung sekolah termegah yang dimiliki oleh Kabupaten Jember, dan itu isinya adalah rakyat kami, yang masuk kategori kurang mampu,” katanya usai acara.
SRT 6 Jember terletak di belakang Stadion Notohadinegoro, Kreongan, Kecamatan Patrang. “Total siswa SD berjumlah 44 orang dan SMP berjumlah 51 orang,” kata Kepala SRT 6 Jember Artika Sari Dewi.
Mereka terdiri dari 25 orang siswa laki-laki dan 19 orang siswa perempuan untuik sekolah dasar, serta 28 orang siswa laki-laki dan 23 orang siswa perempuan untuk sekolah menengah pertama.
Artika mengakui masih ada kekurangan lima orang siswa. “Kekurangan lima orang akan terus dipenuhi oleh teman-teman pendamping PKH (Program Keluarga Harapan) di seluruh kecamatan,” katanya.
SRT 6 Jember memiliki 14 guru, empat wali asrama, sepuluh wali asuhm delapan satpam, dan empat cleaning service. “Yang saat ini dalam pengadaan adalah juru masak, operator, dan guru agama Hindu, karena yang terdapat satu siswa beragama Hindu,” kata Artika.
Artika menyebut pembukaan MPLS SRT 6 Jember momen spesial. “Kita tidak hanya membuka sekolah baru, tetapi juga membuka harapan-harapan baru, menyalakan obor-obor pengetahuan, dan membangun masa depan anak-anak bangsa,” katanya.
Direktur Rehabilitasi Sosial dan Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial Mohammad Royani mengatakan, MPLS akam digelar pada 15-29 Agustus 2025. “Tujuannya adalah supaya siswa seluruhnya betah tinggal di SRT ini,” katanya.
Seusai MPLS, para siswa akan mengikuti program matrikulasi. “Operasional SRT ini menggunakan asas multi-entry, multi-exit. Artinya, ada keberagaman latar belakang pendidikan siswa yang masuk ke SRT. Pihak sekolah akan melaksanakan matrikulasi supaya setiap siswa siap untuk mengikuti kegiatan yang bersangkutan,” kata Royani. [wir]






