Bondowoso (beritajatim.com) – Beredar video viral seorang dokter spesialis yang berstatus sebagai ASN, memasang bendera One Piece di rumahnya di Kelurahan Dabasah, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso.
Pemasangan Bendera One Piece itu dilakukan pada 1 Agustus 2025 lalu. Sepekan setelahnya, ada tiga anggota Koramil setempat yang mendatangi kediamannya.
Dia adalah dr. Yusdeny Lanasakti. Seorang dokter spesialis penyakit dalam yang bekerja di RSUD dr H. Koesnadi Bondowoso.
Kepada anggota TNI, Yusdeny menjelaskan bahwa pemasangan Bendera One Piece adalah wujud protesnya pada pemerintah. Ia menilai banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.
“Itu maaf ya bukan bendera PKI. Yang sudah dilarang oleh undang undang, bukan. Sebenarnya itu cuma jeritan suara rakyat,” katanya usai menunjuk bendera One Piece.
Menurutnya, wajar rakyat protes pada pemerintah karena kebijakan pajak yang semakin menyengsarakan rakyat. Belum lagi perihal penanganan kasus hukum.
Kendati demikian, Yusdeny yang merupakan anak dari Purnawirawan TNI itu menegaskan bahwa ia tahu norma, sehingga bendera One Piece tidak dikibarkan atau ditempatkan lebih tinggi dari bendera merah putih.
“Itu bendera (merah putih) bapak saya juga yang perjuangkan. Bapak saya tentara dari perjuangan kemerdekaan. Jadi saya gak mau berkhianat kepada bapak saya sendiri. Makanya saya taruh di sini dan gak saya kibarkan. Tapi itu cuma lambang protes kita,” jelasnya.
Pada penggalan video selanjutnya, ia juga menjelaskan banyak hal tentang kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak tepat. Salah satunya dengan terus memperbanyak utang negara.
“Wis tah pak. Kita gak usah program macam macam dulu. Wis bayar utang dulu aja yang 10 tahun terakhir ini menumpuk, karena teman bapak sendiri tuh yang 10 tahun lalu ngutang terlalu banyak,” sindirnya.
BeritaJatim.com kemudian berkesempatan mewawancarai langsung Yusdeny Lanasakti pada Selasa (12/8/2024) di RSUD dr H Koesnadi.
Ia menilai ASN yang mengkritisi pemerintah tidak aneh. “Yang aneh menurut saya adalah kalau bangsa ini hancur dan semua ASN diam,” katanya.
Penggerak Makelar Akhirat—sebuah komunitas peduli masyarakat miskin—ini berharap pemerintah tidak meragukan nasionalismenya.
“Di saat bangsa ini membutuhkan anak bangsa untuk bergerak, saya sudah bergerak duluan. Contohnya ketika terjadi bencana alam, saya turun jadi relawan. Gempa palu, gempa lombok, gunung Semeru yang meletus saya turun,” paparnya.
“Intinya, kalau bangsa ini dalam keadaan susah, tanpa diminta saya turun tangan. Tapi bukan berarti itu saya sebagai ASN harus nurut kalau ada yang tidak benar dengan bangsa ini,” sambungnya.
Justru menurutnya, ASN seharusnya yang pertama kali mengkritisi pemerintah jika kebijakannya salah.
“Jadi kalau ada ASN tidak mengkritisi arah pemerintahan ini, itu bukan ASN yang baik menurut saya. Pemerintah selalu berganti, tapi bangsa ini tetap Indonesia,” tegasnya.
Banyak orang beranggapan, menjadi ASN maka harus patuh dan taat apapun kebijakan hirarkis yang dibuat oleh pemerintah. Yusdeny tak sependapat.
“Yang ikut arus itu hanya ikan mati. Saya gak mau mengikuti arus. Karena makhluk hidup itu pasti melawan arus, mengikuti keinginannya dia,” tuturnya.
Namun ia menggarisbawahi bahwa ASN harus patuh pada kebijakan yang benar. Seperti halnya ASN tidak boleh bolos dan wajib bekerja dengan benar. “Tapi kalau mengkritisi, tidak apa-apa asalkan untuk kebaikan bangsa,” dalihnya.
Ia pun rela andai gerakan protesnya bakal berdampak panjang pada statusnya sebagai abdi negara.
“Seandainya mau mencabut saya sebagai PNS, tanpa berpikir dua kali, saya sangat rela. Gak apa-apa,” jawabnya.
Ia menambahkan, ada hal yang harus terus diperjuangkan. “Idealisme tidak bisa ditukar dengan apapun. Saya bisa hidup tanpa jadi ASN,” pungkasnya. (awi/ian)






