Malang (beritajatim.com) – Tim Doktor Mengabdi (DM) Universitas Brawijaya (UB) melakukan pendampingan intensif kepada petani kopi di Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Program bertajuk “Pendampingan Menuju Pertanian Organik Terpadu Berbasis Kopi” ini berlangsung sepanjang Juli – Agustus 2025.
Tim DM UB terdiri dari dosen lintas fakultas, yakni Prof. Dr. Ir. Setyono Yudo Tyasmoro, MS. (Fakultas Pertanian) sebagai ketua, Dr. Ir. Panji Deoranto, MP. (Fakultas Teknologi Pertanian), Kristanto Adi Nugroho, ST, MT. (Fakultas Vokasi), dan Karuniawan Puji W., SP., MP., Ph.D. (Fakultas Pertanian). Program ini juga melibatkan mahasiswa melalui kegiatan magang dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk mendukung implementasi di lapangan.
Prof. Yudo menjelaskan bahwa programnya bertujuan meningkatkan produktivitas kopi rakyat sekaligus menerapkan sistem pertanian berkelanjutan. Kalipuro merupakan salah satu sentra kopi rakyat yang berpotensi menjadi sumber pendapatan utama warga. Namun, produktivitas kopi di wilayah ini masih rendah akibat metode pengelolaan yang konvensional dan minim inovasi teknologi.
“Umumnya petani belum memahami teknik merawat percabangan pohon kopi agar kanopinya ideal untuk memaksimalkan fotosintesis. Mereka juga menggunakan pupuk organik yang belum matang karena tidak melalui fermentasi. Dampaknya, hasil panen hanya sekitar 1–1,5 kilogram per pohon,” ungkap Yudo, Selasa (12/8/2025).
Menurutnya, teknik budidaya kopi di Kalipuro masih mengandalkan metode turun-temurun sehingga kurang efisien. Penerapan pupuk organik yang tepat akan memperbaiki kualitas tanah, membuat pemupukan lebih efektif, dan mengurangi biaya produksi.
Menjawab tantangan tersebut, Tim DM UB memberikan pelatihan melalui modul budidaya kopi yang baik dan benar, meliputi teknik pemangkasan, perawatan tanaman, dan strategi peningkatan produktivitas. Tim juga menyusun modul pembuatan pupuk organik padat yang menekankan pentingnya memantau suhu, pH, dan kelembaban selama fermentasi.
“Kami menemukan bahwa pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi, dan pemangkasan rejuvenasi belum dipahami secara utuh. Akibatnya kanopi kopi tidak merata, fotosintesis terganggu, dan buah yang dihasilkan lebih sedikit,” kata Yudo.
Sebagai pemegang hak paten sederhana metode pembuatan pupuk organik nomor IDS000008710, Prof. Yudo membimbing langsung mahasiswa dan petani membuat pupuk organik sesuai SNI 7763-2018. Standar tersebut mengatur kadar C-organik, N, P, K, rasio C/N, dan bebas logam berat. Fermentasi dilakukan selama 28 hari dengan pemantauan suhu, pH, dan kelembaban setiap tiga hari sekali.
Tim juga memberikan bantuan peralatan produksi pupuk organik agar petani dapat menggunakannya secara berkelanjutan. “Kami ingin petani di sini bisa langsung mengaplikasikan pengetahuan dari modul dan praktik lapangan. Harapannya, mereka mandiri mengelola kebun kopi secara modern dan berkelanjutan. Kami akan tetap mendampingi hingga mereka benar-benar siap,” tegas Yudo.
Program ini melibatkan dosen, mahasiswa, dan mitra lokal secara aktif, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Mitra lokal yang terlibat adalah kelompok masyarakat petani kopi di Kalipuro yang tergabung dalam Kelompok SDG’s, salah satu kegiatannya adalah produksi pupuk organik.
Sebagai informasi, pendanaan program berasal dari Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) UB, sebagai bagian dari komitmen UB dalam mendorong pengembangan pertanian berkelanjutan berbasis komoditas lokal. [dan/aje]






