Surabaya (beritajatim.com) – PT Intiland Development Tbk (Intiland) berhasil menurunkan utang mereka hingga 14 persen berkat pencapaian positif dalam memperkuat fundamental finansialnya. Perusahaan pengembang properti ini berhasil menurunkan total utang dan memperbaiki struktur keuangan melalui strategi deleveraging yang telah dijalankan secara konsisten selama tiga tahun terakhir.
Direktur Utama Intiland, Archied Noto Pradono, menjelaskan bahwa strategi deleveraging menjadi prioritas untuk efisiensi pembiayaan, memperkuat keuangan, dan menciptakan ruang pertumbuhan yang sehat. Upaya ini mencakup pelunasan, pengurangan, atau refinancing utang, serta penjualan aset non-core.
Hingga 30 Juni 2025, total utang Intiland tercatat sebesar Rp4,38 triliun. Jumlah ini menurun sebesar Rp687 miliar, atau 14 persen, dibandingkan posisi pada 31 Desember 2022 yang mencapai Rp5,06 triliun.
“Turunnya jumlah utang ini mencerminkan keberhasilan upaya kami dalam mengelola kewajiban keuangan secara berkelanjutan,” kata Archied Noto Pradono.
Penurunan utang ini juga diikuti oleh penurunan beban bunga yang signifikan, sekitar 16,7 persen dalam tiga tahun terakhir. Beban bunga pinjaman turun dari Rp518,1 miliar pada 2022 menjadi Rp431,8 miliar pada 2024. Per 30 Juni 2025, beban bunga tercatat sebesar Rp176,3 miliar.
Perbaikan struktur keuangan juga terlihat dari rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) yang terus membaik. Rasio DER turun dari 61,1 persen pada 2022 menjadi 47 persen pada semester I 2025. Selain itu, kinerja profitabilitas juga meningkat, tercermin dari peningkatan margin laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) dari 22 persen menjadi 28 persen pada semester I 2025.
Archied Noto Pradono menyatakan bahwa struktur keuangan yang lebih sehat akan meningkatkan daya saing perusahaan. “Kami akan selalu menjaga kepercayaan investor dan memastikan struktur keuangan perusahaan tetap solid dan adaptif terhadap perubahan pasar,” tutupnya.[rea]






