Bangkalan (beritajatim.com) – Kepala Desa Genteng, Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan akhirnya angkat bicara terkait polemik pembagian bantuan sosial berupa beras 20 kilogram yang sempat viral di media sosial. Dalam sejumlah video yang beredar, warga memprotes karena hanya menerima satu karung beras, padahal seharusnya mendapat dua karung sesuai hak Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Menanggapi hal itu, Kepala Desa Genteng, H. Hofi memberikan klarifikasi bahwa pihaknya memang sempat membuat kebijakan untuk membagi rata bantuan beras tersebut kepada seluruh warga. Hal itu dilakukan karena masih banyak warga yang tidak terdaftar sebagai penerima manfaat, namun juga sangat membutuhkan bantuan.
Sayangnya, kebijakan pemerataan tersebut justru menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat dan memicu protes dari salah seorang pemuda hingga viral di media sosial.
“Hari ini penyaluran dilakukan kembali sesuai aturan, dan sudah disertai dengan pernyataan melalui rekaman video dari KPM. Dan kami tegaskan seluruh penerima bantuan pangan beras di Desa Genteng sudah menerima sesuai haknya masing-masing yakni sebanyak 20 kilogram,” ujarnya, Kamis (7/8/2025).
Hofi juga menegaskan bahwa tidak ada hak warga yang dikurangi, dan pemerintah desa berkomitmen untuk terus memperjuangkan agar warga tidak mampu yang belum masuk daftar bisa menjadi penerima bantuan pada tahap berikutnya.
“Prinsip kami tidak ada hak masyarakat yang akan dikurangi. Justru kami ingin memperjuangkan mereka yang belum tersentuh bantuan,” imbuhnya.
Sebagai bentuk empati, Pemerintah Desa Genteng juga menyalurkan bantuan secara pribadi kepada warga kurang mampu yang belum terdata secara resmi sebagai penerima bantuan pangan dari pemerintah pusat.
“Kami bagikan bantuan secara pribadi berupa beras 5 kilogram, meski tidak banyak, ini untuk mengobati kekecewaan warga yang tidak masuk dalam data,” katanya.
Hofi berharap pemerintah daerah dan pemerintah pusat bisa segera memperbaiki data penerima bantuan agar penyaluran bansos ke depan lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
“Kami berharap data penerima bantuan ini diperbaiki, biar tepat sasaran dan tidak menimbulkan kecemburuan di masyarakat,” ucapnya. [sar/ian]






