Kediri (beritajatim.com) – Dosen dan mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PSDKU Universitas Brawijaya (UB) Kediri, telah melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program “Penguatan Food Security pada Lingkungan Pondok Pesantren melalui Urban Aquaculture Budikdamlon Berbiaya Rendah”.
Kegiatan ini diselenggarakan di Desa Bandar Kidul, Kediri, dan bertujuan untuk mendukung pemenuhan gizi seimbang sekaligus mendorong kemandirian pangan berbasis komunitas pesantren, khususnya dalam upaya mitigasi risiko stunting.
Berdasarkan Analisa Data Penanganan Stunting yang dirilis melalui Aplikasi Satu Data Kota Kediri (2025), angka stunting di Kabupaten Kediri menunjukkan tren penurunan signifikan, dari 14,1% pada tahun 2021 menjadi 7,9% per Februari 2025.
Pemerintah Kabupaten Kediri menargetkan angka tersebut dapat ditekan hingga mencapai nol digit pada tahun-tahun mendatang. Guna mendukung target tersebut, diperlukan partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat, termasuk institusi pendidikan dan komunitas lokal.
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan masyarakat memiliki potensi strategis dalam penerapan sistem pertanian terpadu yang ramah lingkungan, serta menjadi pelopor dalam membangun ketahanan pangan berbasis komunitas.
Melalui metode Budikdamlon (Budidaya Ikan dan Tanaman dalam Galon), para santri diajak untuk terlibat langsung dalam proses budidaya ikan lele dan tanaman kangkung secara terpadu. Kegiatan pelatihan mencakup tahapan persiapan alat dan bahan, teknik pemeliharaan, hingga pemanenan.
Salah satu keunggulan dari metode ini terletak pada pemanfaatan limbah rumah tangga, seperti galon bekas, yang digunakan sebagai media budidaya. Pendekatan ini tidak hanya mendukung prinsip ekonomi berbiaya rendah, tetapi juga mendorong praktik pengelolaan limbah plastik secara produktif, selaras dengan prinsip keberlanjutan dan ekonomi sirkular.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, program ini turut mengintegrasikan nilai-nilai religius melalui pengenalan konsep makanan halal dan thayyib dalam perspektif Al-Qur’an. Konsep ini menekankan pentingnya mengonsumsi makanan yang tidak hanya halal secara hukum, tetapi juga thayyib, yaitu baik, bersih, bergizi, dan diperoleh dengan cara yang benar.
Penerapan konsep ini mencakup pemilihan bahan makanan yang tepat, metode memasak yang syar’i dan higienis, serta pola konsumsi yang seimbang dan tidak berlebihan (israf), sebagaimana diajarkan dalam sunnah Nabi Muhammad SAW.
“Program Budikdamlon ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi keterampilan, tetapi juga membangun kesadaran spiritual tentang pentingnya menjaga kualitas makanan dan nilai ibadah di baliknya,” ujar Dr. Cecep Alba, dosen ITB selaku koordinator kegiatan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian pada Masyarakat Inovatif (PPMI) yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB tahun 2025. Selain pendampingan lapangan, peserta juga menerima modul pelatihan berupa buku saku Budikdamlon yang berisi panduan teknis, manfaat gizi dari ikan lele dan kangkung, serta integrasi konsep pangan dalam ajaran Islam.
Program ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran kolaboratif yang menggabungkan teknologi tepat guna, nilai-nilai keagamaan, serta pemberdayaan masyarakat.
“Pesan utama dari kegiatan ini adalah bahwa setiap rumah tangga berhak atas keadilan gizi. Pemanfaatan urban aquaculture seperti Budikdamlon membuktikan bahwa teknologi sederhana dapat menjawab tantangan nyata di masyarakat, khususnya dalam pemenuhan gizi di lingkungan terbatas. Mahasiswa dan akademisi perlu hadir secara langsung untuk memberikan solusi aplikatif, terutama di wilayah yang masih tertinggal dari segi infrastruktur dan akses pendidikan,” ujar Arya Bayu Bintoro, mahasiswa UB.
Dengan dukungan yang berkelanjutan, program Budikdamlon diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah lain sebagai solusi terpadu dalam penguatan ketahanan pangan dan pencegahan stunting, khususnya di lingkungan pesantren dan komunitas lokal.







