Malang (beritajatim.com) – Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) menegaskan komitmennya untuk mencetak wirausaha muda sebagai menjadi solusi atas masalah pengangguran intelektual di Indonesia. Hal itu dilakukan melalui serangkaian program inovatif yang puncaknya digelar dalam Seminar Nasional Teknologi Pertanian Indonesia (STPI) III dan Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Teknologi Pertanian Indonesia pada Rabu (6/8/2025) di Gedung Samantha Krida.
Dalam STPI III dilakukan diseminasi ilmu pengetahuan sekaligus panggung peluncuran Britex Store, toko resmi di platform Shopee. Toko ini menjadi wadah bagi ratusan produk inovasi mahasiswa dan UMKM binaan.
Dekan FTP UB, Prof. Dr. Ir. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life.Sc., Ph.D, menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah jawaban langsung terhadap visi UB sebagai World Class Entrepreneur University. Program ini juga sebagai jawaban atas “Kampus Berdampak” dari Kemendikti Saintek.
“Kami tidak ingin lulusan kami hanya menjadi pencari kerja. Kami ingin mereka menjadi pencipta lapangan kerja. Jika kami meluluskan seribu mahasiswa setahun, dan satu orang bisa merekrut lima pegawai, artinya ada 5.000 lapangan pekerjaan baru yang bisa kita ciptakan. Itulah dampak yang sesungguhnya,” ujar tegas Prof. Yusuf Hendrawan.
Salah satu sorotan utama dari acara ini adalah peluncuran Britex Store. Dengan 148 produk yang telah terdaftar saat peluncuran, toko digital ini berfungsi sebagai laboratorium kewirausahaan.
“Prinsip kami bukan mencari profit, tapi ini adalah tools pembelajaran. Di sini mahasiswa belajar mendesain produk, merancang kemasan, hingga strategi pemasaran digital. Kami menerapkan inverse model: beraksi dulu, jika ada kekurangan, kita riset di kampus dan perbaiki. Kalau tidak pernah mencoba, kapan kita tahu kelemahan kita?” Jelas Prof. Yusuf.
Di bawah naungan Laboratorium Kewirausahaan FTP, mahasiswa mempraktikkan seluruh ilmu yang didapat di kelas. Mulai dari penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), HACCP, K3, hingga membangun circular economy dalam proses produksi UMKM.
Inovasi FTP UB tidak berhenti pada penciptaan platform. Model bisnis yang diusung adalah kolaborasi simbiosis mutualisme antara mahasiswa dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sudah ada.
Mahasiswa tidak perlu membangun pabrik dari nol. Mereka terjun langsung ke UMKM binaan, membawa ilmu tentang digitalisasi, manajemen, dan teknologi tepat guna. Sementara itu, mereka belajar langsung dari para pelaku usaha mengenai pengelolaan bisnis di dunia nyata.
“Ini adalah simbiosis mutualisme. Mahasiswa membawa inovasi dan transformasi digital ke UMKM. Sebaliknya, mereka mendapatkan pengalaman praktis yang tak ternilai,” tambah Prof. Yusuf.

Dukungan kuat juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu, Aries Setiawan, mengapresiasi kolaborasi ini.
“Lebih dari 86% PDRB Kota Batu ditopang oleh sektor UMKM. Kolaborasi dengan FTP UB ini sangat konkret dan berdampak. Hampir seribu mahasiswa telah mentransformasikan kreativitasnya kepada UMKM binaan kami di Kota Batu,” ujar Aries.
Inisiatif ini dirasakan langsung manfaatnya oleh mahasiswa. Danar Wijaya, salah seorang mahasiswa FTP UB yang terlibat dalam pendampingan UMKM Fida Accessories, mengaku mendapatkan banyak pelajaran.
“Kami membuat desain kemasan baru berupa pillow box untuk Fida. Di sini kami belajar memahami kebutuhan riil UMKM dan mengaplikasikan ilmu dari kelas. Kami juga membantu proses digitalisasi usaha mereka,” ungkap Danar.
Wakil Rektor I UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., turut mengapresiasi rangkaian kegiatan yang diselenggarakan FTP. Menurutnya, seminar, expo UMKM, dan forum dekan yang berjalan serentak adalah wujud kontribusi signifikan UB dalam mengakselerasi keilmuan teknologi pertanian dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kegiatan ini adalah wujud nyata bagaimana UB berkontribusi pada program ‘Kampus Berdampak’. Kami memfasilitasi pertemuan para pemimpin akademik untuk mengakselerasi keilmuan, sekaligus menghubungkan inovasi kampus dengan lingkungan sekitar, khususnya UMKM,” jelas Prof. Imam saat sesi jumpa media. (dan/kun)






