Malang (beritajatim.com) – Cor Jesu Youth Choir, paduan suara dari Sekolah Menengah Atas Swasta (SMAS) Cor Jesu Malang, sukses menggemparkan panggung Taipei International Choral Competition dengan memborong tiga gelar juara sekaligus. Prestasi gemilang ini tentu mengharumkan nama sekolah sekaligus juga Malang dan Indonesia di kancah internasional.
Dalam kompetisi yang digelar di Taipei, Taiwan, pada Sabtu, 2 Agustus 2025 ini, tim paduan suara yang terdiri dari 10 siswa putra dan 24 siswi putri ini berhasil meraih, 3rd Place Female Category (Juara Tiga Kategori Paduan Suara Wanita), Gold Award Female Category (Penghargaan Emas Kategori Paduan Suara Wanita), dan Silver Award Youth Category (Penghargaan Perak Kategori Paduan Suara Remaja).
Keberhasilan ini diraih setelah mereka membawakan total tujuh lagu dengan penuh penjiwaan, baik dalam sesi kompetisi maupun saat konser khusus. Kepala Sekolah SMAS Cor Jesu Malang, Agatha Ariantini, M.Pd., M.Psi., menuturkan bahwa prestasi internasional bukanlah hal baru bagi sekolahnya. Ini adalah buah dari konsistensi dan kerja keras yang telah menjadi tradisi.
“Kelompok paduan suara kami setiap tahun pasti ikut lomba, dan kami selalu mengikuti yang level internasional. Tahun lalu kami ke Korea dan juga dapat juara,” ungkap Agatha saat diwawancarai beritajatim.com, Selasa (5/8/2025).
Menurutnya, pihak sekolah sengaja mencari event kompetisi yang berkualitas dan terus menaikkan tingkat kesulitan setiap tahunnya. “Kalau saya pikir prestasi mereka sudah bagus, kita tiap tahun berusaha tingkat kesulitannya kita naikkan, jadi supaya anak-anak juga tertantang,” jelasnya.
Untuk menjaga kualitas paduan suara di tengah pergantian anggota setiap tahunnya, latihan intensif menjadi kunci. Meskipun paduan suara ini adalah kegiatan ekstrakurikuler dengan jadwal rutin dua kali seminggu, intensitasnya meningkat drastis menjelang lomba.
“Kalau sudah mendekati lomba, mereka bisa latihan hampir setiap hari. Seperti kemarin, anak-anak memutuskan sendiri, mereka tidak mau libur. Jadi mereka latihan setiap hari pada saat libur bulan Juni,” tambah Agatha.
Lantunan Merdu yang Pukau Juri Internasional
Kemenangan Cor Jesu Youth Choir tak lepas dari pemilihan lagu yang apik dan aransemen yang memukau. Agustinus Wahyu Permadi, pelatih paduan suara, merinci lagu-lagu yang dibawakan oleh para siswa di hadapan juri internasional.
Untuk Kategori Female (Wanita), diantaranya: SALVE REGINA (karya Kocsar Miklos): Sebuah lagu sapaan dan permohonan kepada Bunda Maria yang penuh belas kasih. ORDE-E (karya Maria Theresa Vizconde – Roldan): Lagu berbahasa Cebuano, Filipina, yang berarti Bergembiralah atau Mari Bersuka Cita.
“Tim kami juga membawakan GLORIA (karya Darius Lim): Berasal dari bahasa Latin yang berarti Kemuliaan, merupakan bagian dari doa misa Katolik,” ujar Agustinus
Untuk Kategori Youth (Remaja Campuran)Ada tiga lagu yang dibawakan, yaitu BOGORODITSE DEVO (karya Sergei Rachmaninoff): Doa pujian kepada Maria untuk memohon berkat bagi umat. LAMENTATION OF JEREMIAH (karya Z. Randall Stroope): Menggambarkan kesedihan Nabi Yeremia atas kehancuran Yerusalem. Kemudian, BIRDS OF PARADISE (karya Budi Susanto Yohanes): Lagu yang terinspirasi dari keindahan burung Cenderawasih di Papua, melambangkan kemurnian dan keindahan alam Indonesia.
“Selain enam lagu kompetisi, tim kami juga menggelar konser di Christ The King Catholic Church, Shilin District, Taipei, dengan membawakan lagu tambahan Someone Like You dari Adele,” lanjut Agustinus.
Perjalanan ke Taipei yang dimulai sejak 30 Juli 2025 lalu bukan hanya soal kompetisi. Agatha menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi ajang pembentukan karakter dan kemandirian siswa. Uniknya, seluruh perjalanan dan akomodasi diurus secara mandiri tanpa bantuan biro perjalanan.
“Kami tidak pakai biro. Semua dikoordinir sendiri. Anak-anak harus dilatih dandan sendiri, mengurus barang, bahkan bagaimana caranya supaya tidak ketinggalan MRT. Jadi ketepatan jam sangat dituntut,” tuturnya.
Tantangan terbesar menurutnya justru bukan pada aspek teknis lomba, melainkan pada hal-hal kecil yang melatih tanggung jawab. “Kendala paling utama itu anak-anak suka meninggalkan barang. Ada kunci hotel yang hilang, sampai ada yang memanaskan roti di hotel lalu ditinggal hingga mengeluarkan asap. Justru itu tantangannya,” kenang Agatha sambil tersenyum.
Paduan suara yang telah dirintis sejak 2014 ini telah menjadi daya tarik dan nilai tambah bagi SMAS Cor Jesu. Alumni dari Cor Jesu Youth Choir pun banyak yang merasakan manfaatnya, terutama kemudahan saat mendaftar ke perguruan tinggi ternama berbekal sertifikat prestasi internasional.
Setelah sukses di Taipei, tim sudah mulai merancang target berikutnya. “Seperti ini kan mereka pulang, kita sudah merancang nih, tahun depan kita mau ke mana. Mungkin tahun depan kami akan ke Osaka,” pungkas Agatha. (dan/ted)






