Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengumumkan formula baru dalam pelaksanaan Liga 3 dan Liga 4 sebagai bagian dari langkah strategis untuk memperkuat kompetisi akar rumput. Skema ini sejalan dengan statuta terbaru PSSI dan akan mulai diterapkan pada musim 2025/2026. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Erick pada Senin (4/8/2025).
Menurut Erick, Liga 4 akan digelar di tingkat kabupaten/kota dan memperebutkan Piala Bupati atau Wali Kota, sementara Liga 3 diselenggarakan di tingkat provinsi dengan Piala Gubernur sebagai trofi utamanya. Para pemenang dari kedua kasta liga tersebut kemudian akan melaju ke level nasional dalam perebutan Piala Presiden.
“Ini bagian dari upaya PSSI untuk membangkitkan kembali semangat Perserikatan. Kami ingin memastikan kompetisi berjalan dari akar rumput, dengan melibatkan Asprov, Askot, dan dukungan penuh dari pemerintah daerah,” ujar Erick.
Langkah ini bukan sekadar restrukturisasi kompetisi, namun juga strategi jangka panjang untuk membangun ekosistem sepak bola yang merata dan berjenjang. Erick juga terlihat aktif bersilaturahmi dengan kepala daerah di berbagai provinsi guna memastikan dukungan terhadap rencana ini.
Salah satu bentuk dukungan nyata datang dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Selain dikenal sebagai pecinta sepak bola, Khofifah menyatakan kesiapannya untuk mendukung pengembangan kompetisi lokal di wilayahnya.
“Alhamdulillah Ibu Gubernur sangat mendukung rencana ini. Kita bangun sepak bola Jawa Timur bersama-sama,” tulis Erick dalam pernyataannya.
Jawa Timur memang dikenal sebagai salah satu provinsi dengan ekosistem sepak bola yang cukup hidup, khususnya di level Liga 3 dan Liga 4. Beberapa klub yang aktif di Liga 3 antara lain Rans Nusantara FC yang bermarkas di Stadion Brantas Batu, Persikapas Pasuruan di Stadion Pogar, Gresik United di Stadion Gelora Joko Samudro, serta Persibo Bojonegoro di Stadion Letjen H. Soedirman.
Dengan kompetisi Liga 4 yang digelar di tingkat kabupaten/kota, diharapkan muncul lebih banyak klub lokal yang mampu mencetak pemain-pemain muda potensial dari berbagai daerah. Para pemain ini nantinya memiliki peluang untuk naik ke jenjang lebih tinggi dan bahkan bisa menembus level nasional hingga internasional.
Inisiatif ini juga menandai komitmen PSSI untuk tidak hanya membenahi liga profesional, tetapi juga membangun fondasi yang kuat di level komunitas. Dengan melibatkan pemerintah daerah sebagai motor utama pembinaan, kompetisi akar rumput diharapkan menjadi lebih hidup dan berkelanjutan. [way/beq]






