Lumajang (beritajatim.com) – Imbas banjir lahar Gunung Semeru selalu berdampak terhadap aktivitas warga di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Setiap banjir lahar datang, jembatan limpas yang berdiri tepat di kawasan sungai Regoyo secara otomatis akan ikut tertutup. Padahal jembatan ini menjadi akses keluar masuk satu-satunya bagi warga.
Kondisi ini membuat 130 kepala keluarga (KK) yang tinggal di Dusun Sumberlangsep akhirnya selalu terisolasi banjir karena akses mereka terputus. Meski begitu, sejak lama mayoritas warga masih enggan untuk pindah dan direlokasi ke tempat yang lebih baik.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menyampaikan, sejak lama wilayah Dusun Sumberlangsep sudah menjadi pusat kegiatan perekonomian utama bagi warganya yang menetap tinggal.
Selain itu, mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani juga sudah mempunyai lahan di wilayah tersebut. Sehingga, kondisi ini disebut menjadi alasan utama warga enggan untuk direlokasi.
“Sampai hari ini mereka masih bisa bertahan di sana, karena toh kalau direlokasi harus seberapa lama, mereka ini apa ya, enggan meninggal kampungnya. Mereka bercocok tanam di sana, mereka punya kegiatan perekonomian di dusun itu,” terang Indah, Sabtu (2/8/2025).
Menurut Indah, jika warga berkenan untuk dipindah ke tempat yang lebih aman, pemerintah sudah menyediakan hunian tetap (Huntap) bagi penyintas erupsi Gunung Semeru di kawasan bumi semeru damai (BSD) yang ada di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro.
Namun, warga Dusun Sumberlangsep disebut masih enggan untuk pindah dan lebih memilih bertahan di daerah asalnya.
“Kalau mereka mau relokasi saya seneng, apalagi mau relokasi di tempat lain yang kita disiapkan rumah. Ya tentunya kita welcome dan ikut senang kalau mereka mau relokasi. Tapi dulu ketika lahar semeru dan ada huntap untuk relokasi, mereka ya tidak mau,” tambahnya.
Sebagai penanganan, Indah menyebut, Pemkab Lumajang sedang mengupayakan agar Sungai Regoyo bisa segera dinormalisasi. Tahap koordinasi dengan Pemprov Jatim diakui masih harus dilakukan agar normalisasi sungai bisa segera dilakukan.
“Saya sudah lapor Gubernur juga terkait ini, yang paling menting saya lapor pak Menteri PU karena ini jembatan limpas adalah aset Kementerian. Jadi kami berharap segera dilakukan normalisasi,” ucap Bupati Lumajang yang akrab disapa Bunda Indah itu. (has/kun)






