Sumenep (beritajatim.com) – Sebuah musibah terjadi saat perkemahan Pramuka di Dusun Paojajar, Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep Madura.
Seorang peserta perkemahan Pramuka di bawah lembaga Pondok Pesantrem Annuqayah Guluk-guluk, meninggal karena tenggelam di DAM. Korban bernama Mohamad Aimur Rafky (15), warga Desa Bringsang, Kecamatan Giligenting.
“Korban meninggal dalam kegiatan perkemahan Pramuka. Tepatnya saat korban mandi di DAM di sekitar lokasi perkemahan,” kata Plt Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti S, Sabtu (02/08/2025).
Musibah itu berawal ketika panitia dan peserta berangkat dari Pondok Pesantren Annuqayah menuju lokasi kegiatan dengan berjalan kaki. Setelah tiba di lokasi sesuai roundown yaitu di Kebun As-Salam Prancak, panitia dan peserta mendirikan tenda, kemudian melaksanan kegitan Pramuka.
Keesokan harinya, setelah selesai shalat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan kegiatan Pramuka, yakni melakukan jelajah melewati beberapa pos. Setelah sampai di pos pantau yaitu di DAM Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, para peserta dintruksikan untuk mandi dengan menggunakan gayung yang telah disiapkan oleh panitia dengan waktu 5 menit setiap kelompok.
Panitia telah melarang peserta berenang ke tengah DAM. Bahkan panitia sudah memberikan batas agar peserta tidak mandi ke tengah.
Namun tiba-tiba terdengar suara peserta berteriak minta tolong. Waktu dilihat, ternyata ada salah satu peserta berada di tengah DAM dalam posisi tenggelam. Yang terlihat hanya ujung jarinya.
“Melihat itu, peserta yang lain langsung melompat ke dalam DAM untuk menyelamatkan yang tenggelam, tapi tidak berhasil. Pencarian korban diteruskan oleh salah satu pembina dengan cara menyelam ke dasar DAM. Namun korban tidak ditemukan,” ungkap Widiarti.
Masyarakat sekitar pun berdatangan untuk membantu proses pencarian korban. Sekitar 2 jam berikutnya, korban ditemukan dalam keadaan sudah meninggal. Korban pun dievakuasi dan dilakukan visum oleh tim medis.
“Hasil visum sementara menunjukkan ada luka lecet pada pelipis mata kurang lebi⁶h 2 cm, kemudian keluar darah dari kedua mata dan kedua telinga,” terang Widiarti.
Jenazah korban saat ini sudah dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Bringsang Kecamatan Giligenting, didampingi salah satu Pembina Pramuka.
“Korban pun langsung dimakamkan setelah keluarganya yang berada di Jajarta tiba di Sumenep,” ujar Widiarti. (tem/ted)






