Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah hiruk-pikuknya kota Surabaya, sebuah suasana yang jarang terlihat kini mengisi ruang Masjid Nasional Al Akbar. Pada Jumat malam, 1 Agustus 2025, para jamaah menyambut dengan antusias kajian yang penuh makna—bukan hanya sekadar teori, tapi sebuah diskusi yang menghidupkan jiwa wirausaha yang sesuai dengan syariat Islam.
Ini bukan kajian biasa. Di bawah bimbingan Yusron Aminulloh, seorang pengusaha sukses dan praktisi pendidikan, para jamaah tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi juga saling berbagi pengalaman. Dialog akrab antara ustadz dan jamaah ini memberi ruang untuk saling bertukar cerita tentang tantangan dan rahasia menjalankan bisnis berkah.
“Ngaji entrepreneur ini memberi peluang untuk kita berdialog, saling berbagi pengalaman. Tidak hanya soal teori, tapi juga tentang bagaimana menumbuhkan jiwa entrepreneur dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Yusron Aminulloh, CEO DeDurian Park dan Saieda Greenview, yang tampil sebagai narasumber dalam kajian ini. Ini adalah episode ketiga dari kajian yang akan rutin diadakan setiap Jumat ba’da Maghrib di masjid megah tersebut.
Yusron kemudian membuka diskusi dengan prinsip-prinsip dasar yang membangun fondasi kesuksesan bisnis menurut Islam. Ada delapan nilai utama yang harus dijalankan oleh seorang pengusaha Muslim, antara lain: menata niat karena Allah, membiasakan sedekah, membangun silaturahmi, serta memiliki tekad, kejujuran, amanah, kerja keras, dan ketekunan.
“Sukses itu bukan karena usaha kita semata, tapi karena izin Allah. Jika prinsip-prinsip ini kita jalani, modal untuk sukses akan terbuka lebar,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Mohammad Ghofirin, Kepala Bidang Imarah Masjid Nasional Al Akbar Surabaya menjelaskan bahwa kajian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang teori dan praktik berwirausaha yang sukses, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip syariah.
“Ngaji Entrepreneur ini mengundang tidak hanya ahli fiqh muamalah, tetapi juga pengusaha sukses yang siap berbagi kisah inspiratif. Kami berharap jamaah dapat mengaplikasikan ilmu ini dalam dunia usaha mereka,” ungkap Ghofirin, yang juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung, termasuk Pemprov Jawa Timur dan sektor perbankan.

Dialog semakin hidup ketika seorang bapak di tengah acara berbagi keresahan. Ia mengaku kesulitan mewariskan bisnis kepada anaknya, yang memiliki pandangan berbeda tentang masa depan.
Yusron dengan bijak menjawab, “Tugas kita sebagai orangtua adalah menyiapkan masa depan anak-anak, tetapi kita tidak boleh memaksakan cara kita. Biarkan mereka melanjutkan bisnis dengan cara mereka sendiri, sesuai dengan zaman mereka. Kita hanya perlu mengawal.”
Seorang ibu guru juga meminta tips agar anak-anak bisa lebih paham tentang dunia bisnis. Yusron menanggapi, “Sayangnya, dunia pendidikan kita lebih fokus pada prestasi akademik dan bukan pada pengembangan keterampilan entrepreneur. Para guru harus lebih peka terhadap bakat anak, bukan hanya berdasarkan nilai-nilai sekolah.”
Bagi Yusron, ciri-ciri anak yang sukses di dunia bisnis ada empat: kreatif, mudah bergaul, berani berpikir berbeda, dan sering kali kurang menonjol dalam prestasi akademik. “Riset menunjukkan bahwa anak-anak seperti ini kelak akan menjadi pengusaha sukses yang memimpin anak-anak pintar akademik sebagai karyawan mereka.”
Kajian ini bukan hanya tentang teori dan prinsip dasar bisnis, tetapi lebih kepada menggugah semangat dan memberi ruang bagi jamaah untuk merenung dan belajar tentang arti sukses yang sesungguhnya—sukses yang tidak hanya menguntungkan secara materi, tetapi juga memberi berkah.
Masjid Nasional Al Akbar Surabaya kini menjadi ruang di mana wirausaha dan nilai-nilai Islam berjalan beriringan, menginspirasi banyak orang untuk memulai perjalanan bisnis mereka dengan niat yang lurus dan langkah yang penuh keyakinan. [suf]






