Gresik (beritajatim.com) – Pasca kejadian kebocoran fasilitas di PT Gresik Gases Indonesia (LINDE) yang menyebabkan hujan debu di Desa Romoo, Kecamatan Manyar, Gresik. Komisi III DPRD setempat menggelar rapat hearing bersama PT LINDE, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), c dan Plt Kepala Desa.
Dalam hearing tersebut, Komisi III menuding perusahaan yang memproduksi oksigen industri dan nitrogen itu tak pernah menyalurkan Corporate Social Responsibility (CSR) selama beroperasi sejak tahun 1997.
Wakil Ketua Komisi III Abdullah Hamdi mengatakan, dirinya hanya bisa mengelus dada ada perusahaan sebesar ini. Belum pernah menyalurkan CSR selama beroperasi. “Laporan yang masuk pelaksanaan program CSR yang dilakukan PT Gresik Gases Indonesia (LINDE) belum pernah ada ke warga sekitar,” katanya, Jumat (1/8/2025).
Politisi PKB itu tersebut juga menambahkan, ada sejumlah poin yang harus menjadi perhatian serius oleh pihak perusahaan. “PT Gresik Gases Indonesia (LINDE) wajib memberikan kompensasi kepada warga yang terdampak dan mengalami sakit akibat insiden tersebut selama kurun waktu tiga bulan,” imbuhnya.
Selain kompensasi, perusahan ini diminta menyiapkan sistem pemantau kualitas udara (SPKUA) baik di lingkungan pabrik maupun di balai Desa Roomo serta dipasang Early Warning System (EWS) Untuk mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang. “Kami juga meminta kewajiban PT Gresik Gases Indonesia (LINDE) melibatkan pihak terkait apabila akan melakukan uji coba (trial) operasional kembali,” ungkap Hamdi.
Hal senada juga disampaikan anggota Komisi III Asro’in Widiana. Dirinya meminta perusahaan ini bertanggungjawab penuh secara moril kepada warga yang terdampak. “Apapun bentuknya harus ada kompensasi termasuk juga penyerapan tenaga kerja di sekitar perusahaan,” urainya.
Menanggapi hal ini Human Resources Development (HRD) PT Gresik Gases Indonesia (LINDE) Andita Huda menuturkan, perusahaannya akan bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan warga yang masuk rumah sakit. “Kami akan tanggung jawab dan menanggung seluruh biaya perawatan medis terhadap warga yang terdampak,” tuturnya.
Mengenai penyaluran CSR kepada warga sekitar perusahaan. Dirinya mengaku sebelum pernah ada. Namun, saat kejadian covid-19 dihentikan. “Sebelum covid-19 kami pernah menyalurkan CSR. Tapi setelah ada kejadian nasional tersebut tak ada lagi,” tutupnya. [dny/kun]






