Banyuwangi (beritajatim.com) – Mangrove Festival (Mangrofest) 2025 resmi dimulai dengan tema, “Rayakan Mangrove Rangkai Harapan” di Taman Nasional (TN) Alas Purwo, Banyuwangi.
Rangkaian kegiatan Mangrofest 2025 dibuka dengan Mangrove Harmony Ride. Pemilihan motor listrik, menjadi simbol pelestarian alam dengan gaya hidup modern yang berkelanjutan.
Pemilihan motor listrik tidak hanya memperkuat pesan pelestarian mangrove sebagai penyangga ekosistem pesisir, tetapi juga menyuarakan pentingnya pergeseran gaya hidup dan transportasi
yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Melibatkan komunitas motor listrik Elders Eletrico dalam gerakan konservasi juga adalah bentuk pelibatan generasi muda dan masyarakat urban dalam semangat #HijrahEnergidan #HijaukanIndonesia lewat aksi nyata dan gaya hidup.
Dilanjutkan dengan sight seing Savana, pelepasan 1000 tukik dan pameran booth interaktif bersama kelompok masyarakat mangrove di Pantai Trianggulasi.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Kehutanan RI, Sulaiman Umar Siddiq hadir serta membuka lamgsung rangkaian kegiatan melalui penanaman mangrove di Jatipapak, TN Alas Purwo.
Pihaknya mengaku, rangkaian kegiatan ini menjadi momentun konsolidasi nasional berbagai pihak dalam mendorong rehabilitasi mangrove secara berkelanjutan, serta menguatkan transisi menuju gaya hidup rendah emisi.
“Mangrove Indonesia terluas di dunia, lebih dari 3,4 juta hektar 23% total luasan mangrove dunia. Ini menjadi komitmen bersama, agar rehabilitasi mangrove berjalan secara berkelanjutan, dengan pemulihan ekosistem secara menyeluruh, menguatkan peran masyarakat pesisir serta menguatkan potensi ekonomi mangrove secara lestari,” ujarnya.
Sulaiman menerangkan, Indonesia menginisiasi proyek rehabilitasi mangrove terbesar di dunia. Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan World Bank menginisiasi proyek Mangroves for
Coastal Resilience atau M4CR yang memiliki target rehabilitasi mangrove sebesar 41.000 hektar dengan penanaman lebih dari 80 juta batang di 4 provinsi.
Prioritas Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara hingga 2027.
“Proyek ini menjadi wujud nyata komitmen Indonesia dalam aksi iklim berbasis alam, sekaligus kontribusi pada restorasi ekosistem global,” terang Sulaiman.
Kick-Off Mangrofest 2025 diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan. Antara lain perwakilan kementerian/lembaga, perwakilan negara sahabat, pemerintah daerah, mitra pembangunan, komunitas dan penggiat mangrove, Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD), LSM, masyarakat lokal, dan para mitra pelestari mangrove.
Rangkaian Mangrofest 2025 akan berlangsung hingga bulan Oktober mendatang, dengan berbagai acara menarik.
Diantaranya, media gathering, mangrove art and music festival, mangrove awarding night and gal diner, dan puncak acara mangrove fun run and Family Walk yang diselenggarakan secara serentak di Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
DirekturJenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan, sekaligus Ketua Panitia Mangrofest 2025 Dyah Murtiningsih menjelaskan, kegiatan dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik dan pemangku kepentingan terhadap pentingnya ekosistem mangrove.
Kegiatan ini juga menampilkan inovasi, kearifan lokal, dan best practices rehabilitasi mangrove dari berbagai daerah. Serta menumbuhkan komitmen lintas sektor dan lintas generasi untuk
menjaga hutan mangrove sebagai penyangga masa depan pesisir Indonesia.
“Mangrofest 2025 ini resmi dibuka dengan Mangrove Harmony Ride, sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pengurangan emisi karbon dan transisi menuju energi ramah lingkungan,” tandasnya. [alr/aje]






