Jember (beritajatim.com) – Gubernur Khofifah menjelaskan penyebab krisis bahan bakar minyak di Kabupaten Jember, Jawa Timur, di hadapan para penerima bantuan sosial, saat mengunjungi Pendapa Wahyawibawagraha, Kamis (31/7/2025).
“Beberapa waktu yang lalu memang terjadi antrean panjang di Ketapang, Banyuwangi, karena penyeberangan Ketapang-Gilimanuk ada masalah dengan armada. Banyak armada yang harus docking, sehingga kekurangan armada lalu antreannya panjang kalau siang. Kalau malam sampai pagi bisa terserap,” kata Khofifah.
Pemerintah Provinsi Jatim melayangkan surat ke Menteri Perhubungan agar ada penambahan armada. Kementerian Perhubungan mengabulkan. Namun muncul persoalan lainnya.
“BMKG bilang: “Ini ombaknya tinggi, berbahaya kalau melakukan penyeberangan ke Tapang Gilimanuk’. Panjenengan saya rasa pasti setuju bahwa keamanan nomor satu. Sebaiknya kita mengikuti arahan BMKG,” kata Khofifah.
Cuaca buruk menyebabkan aktivitas penyeberangan kapal berhenti. “Ketika kemudian penyeberangan itu berhenti tiga hari, maka antrean tambah panjang. Akhirnya kemudian BBM dari Tanjungwangi, Banyuwangi, yang itu sebetulnya untuk Jember, akhirnya macet jalannya,” kata Khofifah.
Di lain pihak, jalur Jember-Banyuwangi melalui Gunung Gumitir sedang diperbaiki total dan ditutup selama dua bulan sejak 24 Juli 2025. “BPJN (Balai Pelaksanaan Jalan Nasional ) minta dua bulan, tapi ini ada percepatan-percepatan,” kata Khofifah.
Opsi lain untuk angkutan BBM dari Banyuwangi melewati rute Situbondo-Bondowoso. Namun ada perbaikan jembatan Besuk di sana. “Kenapa (perbaikannya) bareng-bareng? (Perbaikan) Gumitir (dibiayai) APBN, yang jembatan Besuk (dibiayai) APBD Provinsi. Kalau enggak sekarang dikerjakan, nanti lewat 15 Desember melampaui batas dari penggunaan APBD,” kata Khofifah.
“Ini kita sudah ngitung. Ya Allah, Gumitir ini total (perbaikannya). Kalau Besuk, proses pembangunan mengurangi kapasitas jalan. Tapi kalau ini tidak kita lakukan, APBD-nya kelewat, Jadi salah. Jadi mohon hal-hal seperti ini didoakan, dimaklumi, dan ini adalah untuk kebaikan kita semua. Lewat Gumitir selamat, lewat Besuk selamat, menyebrang ke Tapang-Gilimanuk selamat,” kata Khofifah.
Menurut Khofifah, sebenarnya ada alternatif jalur transprotasi untuk BBM setelah jembatan Besuk diperbaiki. “Tapi alternatifnya ini hanya untuk kapasitas 15 ton. Sementara tangkinya Pertamina itu 21 ton, enggak bisa lewat situ. Kalau dipakai tangki kecil-kecil itu juga enggak efektif. Maka ada suplai tapi minim, kalau tangkinya dikurangi,” katanya.
Ada opsi untuk menyuplai dari Terminal BBM Surabaya. “Ini suplainya besar. Tapi kalau yang Surabaya enggak pakai menghitung, langsung dibawa ke sini, yang langka bisa Surabaya. Maka harus dihitung. Dari deposit di Terminal Surabaya, berapa kira-kira yang kita kirim ke Jember supaya tidak terjadi kelangkaan di Surabaya,” kata Khofifah.
Opsi dari Terminal BBM Malang juga dikalkulasi. Akhirnya pengiriman BBM diputuskan dari Surabaya dan Malang. “Tapi harus dijaga jangan terjadi kelangkaan di Surabaya, jangan terjadi kelangkaan di Malang. Maka harus ditambah suplemen dari Boyolali, harus ditambah suplemen lagi dari Daerah Istimewa Yogyakarta, harus ditambah suplemen lagi dari Semarang, harus tambah suplemen dari Cilacap,” kata Khofifah.
“Loh terus mereka yang di Cilacap dan Semarang bagaimana? Disuplai dari Jawa Barat. Jadi menata (suplai BBM untuk) Jember ini juga menata semua daerah. Jangan sampai kemudian di sini selesai masalah, kelangkaan terjadi di kota-kota itu,” kata Khofifah. [wir]







1 Komentar
JLS bagaimana kabarnya?