Jakarta (beritajatim.com)- Fenomena “jalan-jalan tanpa belanja” makin marak di pusat perbelanjaan kota besar. Bukan sekadar tren, ini jadi sinyal kuat bahwa tekanan ekonomi masyarakat perkotaan makin nyata.
Di tengah gemerlap pusat perbelanjaan ibu kota, ada pemandangan yang kian sering terlihat: orang-orang datang ke mal hanya untuk melihat-lihat, bertanya-tanya, namun pulang tanpa membawa belanjaan. Fenomena ini populer dengan sebutan Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya).
Namun di balik kesan lucu nama-nama tersebut, ada fakta serius yang menyertainya. Menurut peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, kondisi ini mencerminkan tekanan ekonomi yang nyata di kawasan urban.
“Yang mengkhawatirkan bukan hanya perubahan gaya belanja, tapi meningkatnya kemiskinan di perkotaan. Dari 6,66 persen pada September 2024 naik menjadi 6,73 persen per Maret 2025,” kata Abra dalam siaran pers usai diskusi publik bertajuk “Angka Kemiskinan Turun, Kesejahteraan Naik?” melansir portal resmi Nahdlatul Ulama, Rabu (30/7/2025).
Harga Melonjak, Pendapatan Stagnan
Kenaikan angka kemiskinan di kota-kota besar tak lepas dari faktor-faktor sensitif seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga kebutuhan perumahan.
“Wilayah perkotaan sangat rentan terhadap kenaikan harga. Pendapatan masyarakat pun tidak mengalami peningkatan yang signifikan, bahkan cenderung menurun, terutama di sektor informal,” ujarnya.
Akibat tekanan ekonomi itu, masyarakat terpaksa mengubah pola konsumsi. Prioritas kini bergeser ke kebutuhan dasar seperti makanan, pendidikan, dan kesehatan. Barang sekunder dan tersier seperti fesyen, elektronik, atau hiburan bukan lagi jadi prioritas utama.
“Inilah yang memicu munculnya Rojali dan Rohana. Mereka ke mal bukan untuk belanja, tapi sekadar melepas penat tanpa harus mengeluarkan uang banyak,” terang Abra.
Fenomena Rojali Tak Hanya Dialami Masyarakat Miskin
Menariknya, menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Maret 2025, pola konsumsi menurun juga terjadi di kalangan kelas atas.
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, menyebut bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi pun kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
“Meskipun belum tentu langsung berdampak pada angka kemiskinan, fenomena Rojali menjadi sinyal penting. Ini bukan hanya tugas mengurangi kemiskinan, tapi menjaga konsumsi dan daya beli masyarakat kelas menengah bawah,” ujar Ateng dalam rilis resmi BPS beberapa Waktu lalu.
Dia menambahkan, BPS belum melakukan survei khusus mengenai perilaku Rojali. Namun tren ini bisa menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan ekonomi ke depan.[aje]






