Bondowoso (beritajatim.com) – PT Pertamina Patra Niaga Wilayah Jatimbalinus membeberkan langkah konkret dalam mengatasi gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Bondowoso.
Hal itu disampaikan langsung dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi II DPRD Bondowoso, Selasa (29/7/2025), menyusul keluhan masyarakat akibat kelangkaan BBM yang terjadi sejak Minggu (27/7/2025).
Perwakilan Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Cholison, menyebut kebutuhan harian BBM bersubsidi untuk wilayah Bondowoso rata-rata mencapai 200 hingga 220 kiloliter (KL) per hari.
Sebagai bentuk respons terhadap keterlambatan distribusi sebelumnya, pihaknya telah merealisasikan penyaluran BBM hingga 241 KL per hari.
“Artinya, kami berupaya menambal keterlambatan sebelumnya dengan suplai maksimal. Beberapa strategi sudah kami jalankan, termasuk alih suplai dan pengalihan rute distribusi,” jelas Cholison.
Masalah distribusi BBM ini tak lepas dari dampak penutupan Jalan Nasional Jalur Gumitir yang menghubungkan Jember dan Banyuwangi sejak 24 Juli 2025 lalu.
Penutupan jalur yang direncanakan berlangsung hingga 24 September 2025 itu memicu kemacetan di sejumlah wilayah dan berdampak langsung pada distribusi energi, termasuk BBM dan LPG.
Berdasarkan data Pertamina, terdapat 8 SPBU di Bondowoso dan 41 SPBU di Jember yang terdampak akibat penutupan jalur tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan dan mitigasi distribusi sejak pertengahan Juli lalu.
Salah satunya dengan mengalihkan rute distribusi BBM dan LPG menjadi Banyuwangi – Situbondo – Arak-Arak – Bondowoso – Jember. Sebelumnya, jalur distribusi langsung menghubungkan Banyuwangi ke Jember via Gumitir.
“Kami juga berkoordinasi dengan Satlantas dan Polres setempat untuk memberikan prioritas bagi kendaraan pengangkut BBM dan LPG. Namun, imbas kemacetan membuat waktu tempuh (Round Time Hours) meningkat dari semula 4 jam menjadi 11 jam,” ujar Ahad dalam siaran pers.
Sebagai solusi lanjutan, Pertamina juga melakukan alih suplai dari Fuel Terminal Surabaya Group dan Malang, agar mobil tangki tidak terjebak kemacetan di Pelabuhan Ketapang.
Hingga saat ini, sebanyak 79 mobil tangki bantuan telah disiapkan dari tiga titik suplai utama: Banyuwangi, Surabaya, dan Malang.
“Setiap mobil tangki menyesuaikan kapasitas maksimal 24 KL sesuai dengan kondisi jalur yang dilintasi. Kami juga tengah menyiapkan distribusi bantuan tambahan melalui jalur Tuban dan Madiun untuk mempercepat normalisasi pasokan BBM di wilayah terdampak,” pungkas Ahad. (awi/but)






