Surabaya (beritajatim.com) – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menanggapi serius soal praktik beras premium oplosan yang terjadi di berbagai daerah, Jumat (25/7/2025). Eri Cahyadi menilai, praktik curang ini tidak hanya memicu keresahan, tetapi juga banyak merugikan masyarakat selaku konsumen.
“Alhamdulillah kemarin dari Satgas Pangan (telah melakukan sidak) ke beberapa titik pasar, namun belum ada (temuan). Ini, untuk lokasi pasar-pasar yang dikelola Pemerintah Kota Surabaya ya,” kata Eri, Jumat (25/7).
Meski belum ada temuan beras premium oplosan di Surabaya, Eri memastikan, pihaknya tidak akan tinggal diam. BPSDA (Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam) dan Satgas Pangan Polrestabes Surabaya akan terus rutin melakukan sidak.
“Ini sebagai langkah preventif. Kami akan turun ke lapangan untuk memeriksa (kualitas beras) di pasar-pasar,” tegasnya.
Wali kota dua periode itu juga mengimbau agar masyarakat berperan aktif melaporkan, apabila menemukan praktik pengoplosan beras premium yang ditemukan di wilayah Surabaya.
“Segera laporkan, baik ke Satgas Pangan maupun ke Pemerintah Kota, karena kami tidak bisa melihat sendiri, ngetes sendiri, sampai ke dalam bawah-bawah, karena itu, kami perlu pengawasan masyarakat,” ucapnya.
Seperti diketahui, Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri mengungkap kasus beras oplosan. Nilai kerugian masyarakat sebagai konsumen pun tidak tanggung-tanggung, nyaris menyentuh nilai Rp 100 triliun per tahun.
Kepala Satgas Pangan Polri, Brigjen Pol Helfi Assegaf menyampaikan, kerugian sebesar itu berasal dari peredaran beras oplosan dengan label premium dan label medium. Rincinya, Rp 34,21 triliun dari beras premium dan Rp 65,14 triliun dari beras medium.
”Bapak Mentan (Amran Sulaiman) menyampaikan hasil temuan di lapangan terhadap mutu dan harga beras yang anomali. Karena di masa panen raya, beras surplus kok terjadi kenaikan harga yang luar biasa,” ujar Brigjen Pol Helfi. [ama/but]






