Jakarta (beritajatim.com)- Kementerian Agama (Kemenag) kembali membuka kesempatan emas bagi para pencari ilmu. Melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) tahun 2025, sebanyak 230 kuota beasiswa jenjang S2 dan S3 dalam negeri disediakan bagi masyarakat, meskipun jumlah peminat jauh melebihi kapasitas.
Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma), Ruchman Basori, mengungkapkan bahwa total pendaftar program ini sangat tinggi, terutama di jenjang pascasarjana. “Untuk S2 dan S3 dalam negeri saja, ada 4.455 pelamar. Artinya, persaingan sangat ketat,” ujarnya melansir portal resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI Rabu (23/6/2025).
Tingginya Minat Tunjukkan Kebutuhan Pendidikan Lanjutan
Menurut Ruchman, antusiasme ini mencerminkan bahwa beasiswa pascasarjana sangat dibutuhkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menyebut studi lanjut seperti S2 dan S3 masih dianggap mahal, sehingga peran negara sangat penting untuk menjembatani keterbatasan biaya.
“Banyak dosen kita yang masih belum bergelar doktor. Untuk menaikkan angka ini, tentu diperlukan dukungan beasiswa seperti BIB,” tambahnya.
Rincian Pendaftaran dan Seleksi Beasiswa
Dari 4.455 pendaftar beasiswa dalam negeri:
3.214 orang mendaftar untuk jenjang S2, dan 1.779 di antaranya lolos seleksi administrasi. Setelah tahap akademik dan tes bakat skolastik, 527 orang lanjut ke wawancara.
1.241 orang mendaftar S3, dengan 874 yang lolos administrasi. Setelah seleksi akademik, 483 orang berhak maju ke tahap wawancara.
Proses wawancara dilakukan secara daring sejak 14 hingga 23 Juli 2025 dengan 40 ruang virtual aktif setiap hari. Setiap sesi melibatkan dua pewawancara, satu peserta, dan satu liaison officer (LO).
Pesan untuk Calon Penerima Beasiswa
Ruchman berpesan agar peserta mempersiapkan diri secara matang, baik dari sisi mental maupun teknis. “Seleksi ini sangat kompetitif. Jangan datang tanpa strategi. Tampilkan yang terbaik karena ini peluang emas,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar anggaran beasiswa di masa depan bisa ditingkatkan, agar lebih banyak lagi generasi muda Indonesia yang bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi unggulan dalam negeri. [aje]






